Posted by belarusia on November 17, 2009
Sebenarnya saya tidak suka menyebut merk suatu produk komersiil dalam blog saya, dan memang saya tidak pernah mengikuti acara seperti itu. Keikutsertaan saya dalam acara yang digelar di Ruang Seminar TBY ini benar-benar sesuatu yang tidak direncanakan.
Cerita punya cerita hari ini saya ada jadwal latihan tari jawa di TBY. Tiba-tiba saja begitu sampai sana guru tari saya menarik saya ke ruang seminar untuk ikut dalam lokakarya yang saya sebutkan diatas. Hmmpfh, sudah saya duga mesti bu ning ada acara mendadak (iya kan bu?hehe). Akhirnya saya mau nggak mau ikut acara itu. Padahal kalo mau tau, saya itu kaosan dan sandalan..bener2 penampilan mahasiswa latihan gitu lah. tapi berhubung yang ngajakin juga yang “punya rumah”, ya sudah pede aja.
Selalu ada sesuatu yang bisa dipetik. Itulah yang saya percaya. Meskipun saya tidak suka hadir dalam acara promo suatu produk dan saya sama sekali tidak mengerti mengenai arsitektur dan kerajinan bambu, saya mendapatkan ilmu juga disini.
Dengan mengusung tema awi-awi mandiri yang merupakan program CSR Mandiri untuk meningkatkan ukm di bidang ukm bambu, dua pembicara, yaitu Pak Yos dan Pak Eko Prawoto (dosen arsitek UGM), membicarakan tentang metode penebangan bambu dan lain sebagainya. Saya amat tertarik ketika mereka berbicara tentang kolomongso.
Kolomongso
Sangat sedikit orang yang saat ini masih ingat dengan istilah kolomongso ini. Istilah yang dahulu sering kita temukan dalam kalender ini merupakan sebuah kebiasaan yang mendarah daging dalam masyarakat kita untuk melakukan sesuatu sesuai dengan waktunya. Seperti misalnya kapan kita harus menanam padi, kapan kita harus menebang bambu, kapan kita bisa menggali sumur dan lain sebagainya. Meskipun terkesan tradisional, kolomongso ini bukan tanpa penelitian. Nenek moyang kita melalui pengamatan yang lama akhirnya bisa menetapkan sistem ini yang ternyata terbukti benar ini. Misalnya saja mereka harus menunggu musim A ketika hendak menebang bambu agar bisa mendapatkan bambu dengan kualitas terbaik. Mereka juga harus menghindari musim B ketika menggali sumur agar sumur tidak lekas kering. Begitu juga dengan mbah marijan. Banyak yang menganggap mbah marijan hanya sekadar omong berdasar ramalannya. padahal dia memang bisa memprediksikan sesuatu dan merekomendasikan sesuatu yang lain karena dia sudah sangat dekat dengan alam, sudah terbiasa mengamati apa yang disebut kolomongso itu.
Sayang sekali sistem yang ampuh ini terhapus total sejak jaman orde baru yang mengejar keuntungan maksimal dari eksploitasi alam. Mereka tidak lagi memakai sistem ini karena dirasa tidak efektif untuk menghasilkan menghasilkan suatu produk. Mereka inginnya menebang pohon kapanpun pohon itu dibutuhkan oleh pasar. Bahkan ketika terjadi wabah pes, pemerintah kemudian melarang keras penggunaan dinding bambu (gedeg) dan bukannya mencari solusi lain untuk meminimalisir tikus. Toh juga, dinding bambu ini bisa dibuat kebal dari hama jika memang dibuat sesuai metode yang benar. Dalam cerita yang disampaikan pembicara, ada sebuah pipa air buatan jaman syailendra yang masih bisa ditemukan utuh pada abad kedua puluh ini.
Benar-benar penghapusan yang disayangkan. Bahkan sampai istilah ini benar-benar hilang di ingatan banyak orang.
Terlepas dari itu semua, sebenarnya bangsa kita memiliki banyak budaya dan kekayaan intelektual yang tanpa sadar terhapus karena penjajahan selama berabad-abad tersebut. Tugas kita saat ini adalah melestarikan kembali kearifan lokal tersebut sehingga kita tidak hanya bisa marah-marah ketika budaya kita diklaim negara lain. Sometimes what u tought ‘old’ and out of date is something uptodate =)
Posted in amazing events | Tagged: bambu, kolomongso, Kriya, lokakarya, mandiri, TBY, yogyakarta | Leave a Comment »
Posted by belarusia on November 14, 2009
Setelah semalam menyaksikan petunjukan yang lebih universal, kini saatnya kembali ke pertunjukkan klasik khas yogyakarta.
Seharian kemaren, saya dipusingkan untuk memilih nonton bareng premier 2012 ato wayang wong. Karena saya pikir saya bisa menonton 2012 besok-besok, saya akhirnya memilih nonton wayang wong yang notabene juga gratis..hehe
Selama tiga hari ini, di nDalem Yudhaningratan digelar acara festival wayang wong gaya yogyakarta 2009 yang mempertandingkan kebolehan beberapa grup kesenian di yogyakarta dalam seni wayang wong.
Bagi yang belum mengetahui seni pertunjukkan wayang wong, wayang wong adalah seni teater tradisional Jawa yang merupakan gabungan antara seni drama yang berkembang di barat dan pertunjukkan wayang yang berkembang di Jawa. Cerita wayang wayang wong ini sendiri diambil dari cerita-cerita klasik wayang Purwa. Meskipun pada awalnya, pertunjukkan yang diciptakan oleh Mangkunegara I ini hanya terbatas dikalangan Kraton, pertunjukkan ini semakin merakyat terutama setelah tahun 1900an.
Dalam Festival Wayang Wong Gaya Yogyakarta 2009 yang digelar semalam, baru dua grup kesenian yang mempertunjukkan kebolehannya. Salah satunya adalah Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta yang menampilkan kisah cinta segitiga antara Gandari, Detrarastra, dan Pandu. Alkisah, Pandu pulang dari Mandura membawa Kunthi sebagai hadiah Sayembara. Ditengah perjalanan rombongan ini dihadang oleh Gendara Raja Plasajenar yang terlambat mengikuti sayembara. Dalam perang singkat ini, sang Raja meninggal dan menitipkan adiknya Gendari dan Sengkuni kepada Pandu. Oleh Pandu, ketiga wanita yang dibawanya ini dihadapkan kepada kakaknya Detrarastra untuk dipilih sebagai istri. Sang kakak memilih menikah dengan Gendari yang pada dasarnya menyimpan hati kepada Pandu. Pernikahan keduanya menghasilkan putra-putra yang dikenal dengan kurawa sementara Pandu yang menikah dengan dua wanita lainnya menghasilkan keturunan yang kelak dikenal dengan Pandawa. Menurut cerita, kedua keturunan ini tidak bisa akur dan saling berperang satu sama lain.
Secara keseluruhan pertunjukkan ini lumayan seru, terlebih kalo kita bisa mengerti cerita yang hendak disampaikan (tapi sayangnya nggak..hehe, cuma ngerti dikit karena ada kamus dibelakangnya..hoho). Tariannya juga bagus (membuatku mupeng aja). Wish to watch it next time.
Posted in amazing events | Tagged: Festival, ndalem yudhaningratan, wayang wong, yogyakarta | 4 Comments »
Posted by belarusia on November 13, 2009
Paduan Suara Mahasiswa Unversitas Gadjah Mada menggelar konser bartajuk “Nyanyian Negeriku: Senandung Cinta untuk Indonesia” kamis malam (12/11) di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Konser yang bekerjasama dengan Singgih Sanjaya Orchestra ini cukup sukses menghadirkan banyak penonton dari berbagai kalangan yang rela ngantri panjang memasuki auditorium. Saya sendiri harus rela duduk dibelakang dengan hanya bisa melihat pertunjukkan secara jelas dari layar.
Dibuka dengan lagu lir-ilir, konser ini tidak jauh berbeda dengan konser-konser lain belakangan ini yang menyuguhkan berbagai lagu dari berbagai wilayah di nusantara. Dimulai dari lagu-lagu rakyat di tanah Jawa, paduan suara menghadirkan kekayaan musik bumi Andalas yang kemudian disusul dengan tanah Kalimantan dan Indonesia Timur lainnya. Satu hal yang menarik dari lagu-lagu yang disuguhkan, terdapat satu lagu berjudul badminton. Lagu yang diaransemen oleh Singgih Sanjaya ini cukup menyita perhatian pentonton yang penasaran dengan lirik lagu tersebut. Dengan irama yang cukup upbeat, lagu ini benar-benar menggambarkan permainan badminton termasuk teknik-teknik yang digunakan.
Konser menjadi semakin menarik ketika di akhir acara, penonton disuguhi dengan koreografi apik yang memadukan pakaian tradisional, tarian daerah dengan tarian barat. Gerakannya lincah dan mengingatkan saya pada gerakan-gerakan saya yang masih amatir (huhu, saya penasaran dengan koreografernya). Jujur saya tercengang ketika para penari wanita mementaskan tarian kalimantan yang sangat maskulin. Mungkin saya hanya sedikit kecewa melihat pertunjukkan tari balinya yang kurang terlihat karater Balinya (kritik aja ya).
Afterall, konsernya dapat dikatakan lumayan. Meskipun saya sendiri secara personal lebih suka pertunjukkan orkes yang didukung oleh paduan suara dan tari, bukan sebaliknya..hehe
Posted in amazing events | Tagged: Konser, Nyanyian Negeriku, Orchestra, PSM, Senandung Cinta untuk Indonesia, Singgih Sanjaya, TBY, UGM, yogyakarta | Leave a Comment »
Posted by belarusia on November 11, 2009
Baru-baru ini terjadi suatu ketegangan di Gedung Putih terkait dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Afganistan. Presiden terpilih, Barack Obama, mengalami tekanan dalam memutuskan penambahan pasukan AS di Afganistan. Selain dukungan konggress yang menurun, popularitas Obama pun berkurang akibat kebijakannya ini. Jajak pendapat yang dilakukan pada tanggal 11-13 September dan melibat 1012 warga AS ini menunjukkan 58 persen responden menentang perang dan hanya 38 persen yang mendukung. Poling ini diperparah dengan dukungan di Eropa yang juga semakin kehilangan antusiasme terhadap perang yang sama sekali belum kelihatan hasilnya ini.
Sampai sekarang, Amerika Serikat telah menurunkan 67000 pasukannya yang didampingi oleh 40000 pasukan sekutu. Kontroversi muncul ketika Obama berencana menambah30000 pasukan dalam waktu dekat untuk mengatasi gejolak konflik di Afganistan yang semakin parah. Meskipun jumlah ini kurang dari yang disarankan Jendal Stanley McChrystal, komandan pasukan AS di Afganistan, yaitu 40000 pasukan, rencana Obama ini menimbulkan kritik di berbagai kalangan. Sebagian besar meminta Obama menarik semua pasukannya karena kondisi di Afganistan semakin parah. Keberhasilan tampak masih sangat jauh sementara semakin banyak pasukan yang tewas akibat bom bunuh diri yang sekarang sangat marak terjadi di negara tetangga Pakistan itu. Terlebih sejarah membuktikan pasukan yang banyak bukan jaminan keberhasilan. Kita bisa melihat kembali usaha sama oleh Soviet pada akhir dekade 1980an yang akhirnya menyerah kalah dan mundur pada tahun 1989. Alam Afganistan yang keras dengan gunung dan tebing-tebing tinggi diikuti oleh sikap nekat para pejuangnya terbukti mampu mengalahkan pasukan Soviet yang jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan para pejuang lokal tersebut. Michael Gorbachev, mantan Presiden Soviet yang memimpin penarikan mundur pasukannya, juga menyatakan hal senada. Barack Obama sebaiknya belajar dari Uni Soviet. Penambahan pasukan bukanlah solusi. Obama sebaiknya memusatkan perhatian pada perundingan di Afganistan untuk mengakhiri penderitaan panjang rakyat di negara tersebut. Gorbachev mengatakan semua usaha Obama juga telah dijajakinya dulu, namun Soviet akhirnya memilih untuk mundur, meskipun hal ini dianggap sebagai kekalahan oleh banyak pihak.
Sangat menarik mengamati kebijakan apa yang akan diambil Obama ditengah tekanan bertubi-tubi ini. Obama yang diawal kampanyenya menekankan pada perang terhadap terorisme dan perhatian pada Afganistan tentu tidak akan mundur begitu saja. Apalagi untuk mengikuti kebijakan negara bekas saingan utamanya tersebut. Namun demikian disisi lain, Obama juga harus memperhatikan opini publik yang menentang perang. Terlebih dia akan menghadapi pemilu tengah musim tahun depan.
Terlepas dari semua itu, sepertinya Afganistan benar-benar tangguh dan berhasil membuat dua negara superpower kewalahan. Apakah AS akan mengulang kegagalan Soviet?
(teman-teman diskusiin yuk..klo disetujui sih)
Sumber:
http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/11/09/22005590/belajarlah.dari.pengalaman.uni.soviet
http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/11/09/05290191/Pilihan.Terbatas.bagi.Obama..
http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/11/09/03152776/rakyat.inggris.makin.tak.percaya.tentaranya.menang.di.afganistan
Posted in International Relations | Tagged: Afganistan, AS, barack Obama, Penambahan pasukan, Uni Soviet | 2 Comments »
Posted by belarusia on November 11, 2009
Beberapa waktu lalu, Partai Islam Konservatif Malaysia membuat suatu keputusan yang cukup memicu kontroversi di masyarakat. Para legislator Partai tersebut di Negara Bagian Selangor bersumpah untuk menceraikan istrinya apabila mereka pernah atau akan pindah ke partai lain. Hal ini menyusul panasnya isu pindah partai yang telah muncul sejak pemilu tahun 2008 lalu.
Terlepas dari apapun motif dan tujuan sumpah tersebut, sumpah seperti itu merupakan sesuatu yang kurang bijak, terutama jika ditinjau dari perspektif gender. Sumpah tersebut cukup menggambarkan bagaimana gender di Malaysia terutama di negara bagian Selangor masih dipandang sebelah mata. Bagaimana wanita diperlakukan sebagai suatu objek pasif yang tidak memliki kepentingan apapun. Bagaimana mungkin kesalahan yang dilakukan oleh seorang suami dibebankan kepada seorang istri yang sama sekali tidak bersalah. Tidak heran jika Menteri Peranan Wanita Malaysia, Sharia Jalil garang merespon sumpah tersebut. “Saya tidak paham bagaimana mereka bisa sepakat untuk sesuatu yang begitu rendah dan jahat? Bagaimana istri mereka apolitis?”
Sangat ironis ketika Khalid Samad, salah satu anggota Partai Islam se-Malaysia mengatakan “politik juga bukan permainan tetapi menuntut suatu komitmen yang serius. Kita tidak boleh mengkhianati kepercayaan rakyat. Sama seperti kepada istri, politik harus setia kepada rakyatnya”. Mungkin kita beda bersepsi. Tapi bagi saya, justru ketika salah satu anggota menuruti sumpah tersebut, beliau bukanlah orang yang setia, at least terhadap istrinya.
Posted in International Relations | Tagged: anggota partai, Gender, Malaysia, Selangor, sumpah | Leave a Comment »
Posted by belarusia on November 10, 2009
It was totally coincident when I was walking to Taman Budaya Yogyakarta to practice dancing, I saw a group of women sitting on the floor in front of the main door. I was thinkhing ther must be an event right now.
Yup.
These four days, Cultural Bureau of Yogyakarta Special Province is holding Pekan Seni Anak “Children Art Week” from November 8-12, 2009 in Taman Budaya Yogyakarta. There are various activities under this program, such as children dancing performance, workshop on making children traditional toys, exhibition of children artwork and many other.
I was just so curious with the exhibition that I just visited it before practicing dancing. It was totally great for me to see their painting hanging on the wall. I was tought that they are definitely creative and brave making those pictures. Adult often thinking too much before doing something that everything they do seems not “totally free” and couldn’t express their self and their true feeling. It was so much different from Children. I can see clearly their expression through their painting. They never hesitate too much and only do what they want to do. They dont care whether fish has blue, pink or purple skin. They would coose any colour they want to. I was sure that I would be so confused deciding what picture I want to paint, and Im sure it only would be house, beach or mountain, and even confused recalling what color this thing should have.haha.
Beside various amazing painting, there are still many other artwork such as robots from rubbish, human pupet, paper clothes, paper car, lamp, gigantic doll and many other as you can see below.


And this is my favorite one:

Posted in amazing events | Tagged: Artwork, Children, Pekan Seni Anak, TBY, yogyakarta | Leave a Comment »
Posted by belarusia on November 2, 2009
Saya tertarik dengan artikel kompas hari ini yang berjudul “Berbagi Hati dengan Makan Malam”. Meskipun artikel tersebut bercerita tentang pentingnya makan malam bersama keluarga, artikel ini mengingatkan saya pada kebiasaan saya yang selalu meluangkan waktu meyambangi kamar teman untuk sekadar makan bareng. Entah lah, saya sangat menikmati kebiasaan ini karena selalu ada banyak hal yang saya ingin bagi dengan dia tapi tidak pernah punya waktu bertemu di siang hari. Bercerita seperti ini, selain menghemat waktu ngobrol, juga sangat membantu saya melepaskan lelah setelah seharian beraktifitas. Saya pikir, ”ngapain juga saya makan sendirian di kamar, malah mikir yang nggak-nggak ntar” J
Makan malam bersama telah banyak diketahui memang memiliki beberapa manfaat. Selain dapat melepaskan lelah setelah beraktifitas seharian seperti telah disebut diatas, makan malam bersama orang-orang yang kita sayang dapat meningkatkan energi positif bagi kita karena dapat berbagi dengan mereka. Makan malam memberikan kesempatan bagi kita untuk mendiskusikan hal-hal tertentu dalam suasana yang lebih cair. Tidak heran orang yang sibuk lebih senang menunda pembicaraan untuk makan malam daripada membicarakannya pada jam kerja. Selain konsentrasi terganggu, masalah-masalah tersebut juga dapat mengganggu mood kita dalam bekerja. Oleh karena itu, daripada berkomunikasi dengan orang sepanjang hari baik itu smsan atau chatting, saya lebih baik bertemu sekali yaitu waktu makan malam. Lebih efektif. Bukannya tidak suka, saya hanya merasa saya pasti akan tergoda untuk ngobrol lebih lama sehingga waktu saya terbengkelai dan hari saya tidak efektif. Mengobrolkan sesuatu pada makan malam memiliki batas waktu yang jelas sehingga tidak akan mbleber kemana-mana sampe lama. Kita juga tidak dirugikan karena tidak ada waktu kita yang berkurang. Selain itu, menyimpan obrolan untuk makan malam membuat kita bisa merasakan kangen. It’s nice to feel miss honestly. Hakhakhakhak. So, let’s have dinner together! J
P.S Teman-teman, kita diskusinya pas dinner aja ya? Menurut cerita Habermas, public discourse muncul dari diskusi di coffee shop-coffee shop lho J
Posted in Corat-Coret | Tagged: makan malam bersama, manfaat | 4 Comments »
Posted by belarusia on October 31, 2009
A couple days ago, I went to Tembi House of Culture to watch “Music Highlights at European Capitals”. It is my first time to go there despite the fact that I was so eager to go there long time ago. However it didn’t decrease anything since I was enjoying visiting that place so much.

Tembi House of Culture is a unique ‘living museum’ owned by Mr. Yuswantoro, a former kompas jonalist who is interested in researching and preserving javanese culture. This is a complex which consists of spaces used to developing and understanding local culture. In the middle front of the house, there is pendhapa (Yudonegaran) as a place to play gamelan and wayang. this is supported by a next-door room where visitors can see owner’s collection of wayang. Beside this main building, there are room for painting exhibition (Gandhok), music concert, dancing, and oldies collection. This is such a complete place for culture lovers to enjoy the art!
However, Tembi is not merely a house of culture. This is a good alternative for those who look for a weekend time with families or friends since it provide you with traditional houses to stay the night, beautiful garden, swimming pool, unique javanese restaurant and of course, a fresh village air and scenery. For those who want to have a different meeting or other event, Tembi House of Culture also provide you with two meeting room called Mrican and Gamelan Lor. This is in a quite affordable cost that you dont need to worry much about it.

So, have a nice cultural time ^.^
Nb. These are some pictures when I visited Tembi

Posted in beautiful places | Tagged: bantul, House of Culture, Tembi, yogyakarta | 4 Comments »
Posted by belarusia on October 31, 2009
Akhir-akhir ini kita selalu disuguhi kabar konflik antara militer dan Taliban di Pakistan yang tak kunjung usai. Penyerangan militer terhadap basis kekuatan Taliban di Waziristan Selatan telah membuat wilayah tersebut porak-poranda dan ratusan warga sipil terusir dari tempat tinggal mereka di kawasan tersebut. Usaha Taliban untuk mengalihkan perhatian dari upaya serangan ini dengan melancarkan bom bunuh diri di berbagai kota terutama di Islamad telah menewaskan puluhan warga dan mencederai ratusan lainnya. Kritisnya kondisi di Pakistan menimbulkan pertanyaan penting sebenarnya apa yang tengah terjadi di negara pecahan India tersebut. Pertanyaan ini akan bisa kita jawab jika kita mengerti siapa itu Taliban yang menjadi sasaran utama serangan militer Pakistan baru-baru ini.
Taliban
Kemunculan Taliban tidak bisa kita lepaskan dari sejarah panjang Afganistan. Berawal dari pendudukan Uni Soviet terhadap negara kaya minyak ini, kelompok-kelompok sosial yang sebelumya terpisahkan oleh kondisi alam Afganistan yang keras bersatu padu dibawah bendera mujahidin untuk menentang pendudukan Soviet terhadap negaranya. Telah banyak diketahui Amerika Serikat dibawah bendera CIA sangat mendukung perlawanan ini. Ketika akhirnya Afganistan terbebas dari Soviet, Amerika Serikat justru angkat tangan sehingga terjadi kekosongan kekuasaan yang membuat terjadi perebutan kekuasaan antara kelompok mujahidin tersebut terutama antara mayoritas etnis Pashtun dengan etnis non Pashtun yang menempati sebagian kecil sisi timur laut Afganistan. Belum lagi campur tangan negara-negara asing yang memiliki kepentigan di negara tersebut. Kondisi chaos ini akhirnya menimbulkan keprihatinan di kalangan pelajar Afganistan yang tinggal di barak pengungsian di Pakistan. Mereka kemudian membentuk kelompok untuk mengupayakan perdamaian di Afganistan, membentuk rule of law dan menegakkan sariah Islam. Kelompok ini lah yang kemudian dikenal dengan Taliban (arab: pelajar). Pada awalnya kelompok ini mendapat simpati dari warga setempat karena tujuannya yang mulia. Tidak heran jika dalam perlawanannya terhadap kaum mujahidin tersebut Taliban berhasil menuai kemenangan dan menduduki ibu kota. Sayangnya, kemunculan Oshama Bin Laden diantara mereka dan campur tangan kepentingan Arab Saudi dan Pakistan dibelakangnya membuat kelompok ini mengalami pergesaran ke arah yang lebih radikal. Taliban menjadi kelompok yang berniat menguasai Afganistan dibawah suatu pemerintahan garis keras. Dengan menduduki seluruh wilayah Afganistan kecuali Aliansi utara yang didominasi etnis non-Pashtun, Taliban menerapkan kebijakan radikal seperti larangan adanya video, televisi dan musik serta mewajibkan kaum wanita untuk tinggal di rumah dan memakai gurkha. Rezim Taliban berjalan baik hingga akhirnya terjadi serangan bom oleh teroris di Kedubes AS di Kenya dan Tanzania pada tahun 1998. Diduga kuat dilakukan oleh kelompok ekstremis Islam pimpinan Oshama Bin Laden, AS melakukan serangan balasan ke wilayah Afganistan yang merupakan tempat tinggal Oshama saat itu. Radikalisme Taliban, kehancuran Afganistan dan perlindungan yang diberikan kepada Oshama, membuat AS membenci Taliban. Bahkan di tahun yang sama Amerika Serikat membombardir Desa Khost di selatan Kabul yang diduga menjadi kamp latihan para teroris. Sejak saat itulah terjadi permusuhan antara Taliban dan Amerika Serikat.
Taliban dan Konflik di Pakistan

Akibat pertempuran AS dan Taliban, banyak warga Afganistan keluar dari negaranya dan mencari suaka di negara-negara tetangga termasuk Pakistan. Bahkan Taliban sendiri memilih Pakistan sebagai negara tempat persembunyiannya. Perlu diketahui Pakistan merupakan satu dari tiga negara di dunia yang mengakui kedaulatan Taliban selain India dan Saudi Arabia. Negara ini secara aktif membantu Taliban dikarenakan kepentingannya untuk mendapatkan dukungan dalam perebutan wilayah Khasmir dengan India. Warga Pakistan sendiri cukup menyambut baik kelompok Afganistan ini dikarenakan solidaritas etnis dan kemunculan Taliban sendiri yang memang berakar di Pakistan. Kondisi ini pada akhirnya merugikan Pakistan dalam beberapa hal. Pertama, tekanan Amerika Serikat sebagai sekutu dekat Pakistan untuk menghentikan dukungan terhadap Taliban. Kedua, perluasan wilayah perang dari yang semula di Afganistan sekarang mencakup juga Pakistan. Akibatnya banyak warga sipil yang tidak berdosa meninggal dan infrastuktur-infrastruktur yang ada rusak. Perekonomian Pakistan yang sudah rapuh pun menjadi lumpuh dan terorisme berwujudkan bom bunuh diri menjadi marak di Pakistan. Ketiga, serangan Amerika Serikat ke Pakistan dan ke Taliban menimbulkan sentimen anti-Amerika yag kuat di kalangan warga Pakistan sendiri terutama yang beragama dan beretnis sama sehingga Perang tidak lagi hanya mengalami perluasan tempat tetapi juga perluasan aktor. Warga Pakistan yang semula tidak terlibat menjadi aktif dalam konflik ini. Keempat, persembunyian Taliban di wilayah periperi Pakistan seperti Waziristan memperjelas masalah domestik Pakistan sendiri yang sebenarnya belum memiliki wilayah perbatasan yang jelas dan aman. Keseluruhan dampak ini lah yang tengah kita saksikan di Pakistan saat ini.
Referensi
Tim HotCopy (Red). Oshama Bin Laden: Teroris atau Mujahidin? 2001. Jakarta: Gramedia.
Rashid, Ahmed. The Taliban: Exporting Extremism. Foreign Affairs, Vol. 78, No. 6 (Nov. – Dec., 1999), pp. 22-35. Council on Foreign Relations. Http://www.jstor.org/stable/20049530, diakses pada 24/10/2009 01:07
Profil Taliban. Republika Online 1 April 2009. Diakses pada 24 Oktober 2009, 12:11 pm
Posted in International Relations | Tagged: Afganistan, Amerika Serikat, Bom bunuh Diri, Pakistan, Taliban, Terorisme, Waziristan Selatan | Leave a Comment »
Posted by belarusia on October 20, 2009
Early in the morning, my uncle woke me up to get ready to catch the train. To be honest, I never got up less than 5 o’clock in the morning since last month that it was so hard to open my eyes even for straighten out my body. I was ready right at 5.30 but my uncle told me that I must have missed the train if the schedule was 5.30 like what said last night (I got the info from my friend). So I just had a breakfast and found the next train. It was surprising me when I arrived at the station the ticket seller told me that the train has just passed, since the schedule is 5.45!!! Oh My God, I regretted that I didn’t just go here without having breakfast that I could catch the train. I did learn that enough reliable information is always needed. But fine, now I had to wait one hour for the train 6.55 without hand phone, book and newspaper with me.
For your information, I really like looking around and observing people when I am out of book. It was just interesting and funny to see people expression. If you were lucky enough, you could discover new thing around them. This rail station was interesting object too. I got many interesting fact especially when I compared with the rail station abroad. Just look at the platform. I just realize that it was so narrow that it could be dangerous if there were many people there waiting for the train. As far as I recall, the railroad platform in Czech Republic and France were not this narrow. I went to toilet and just realize that I need to pay for the toilet facility called “sumbangan”. I was like “why the government doesn’t build an integrated rail station? All is belong to government and paid in one single ticket. Oh ya, probably this what so called “ekonomi kerakyatan”? that people are allowed to make money in the station by providing toilet services, selling food in the train and many other. I do agree that government should create jobs for its people. However they could manage it by employ those people permanently for cleaning service or something so that their income is not coming from visitors money that surely not stable day by day but coming from the government regular salary. This way would also make the visitors more convenient since they only need to pay for one ticket to get all those facility.
But ok, forget the toilet stuff since I need to get on the train. I didn’t really complain about the train condition except that I needed to stand up on my heel for one hour until I got Yogyakarta. There’s also a unique thing in the train. If you notice, Indonesian people were fighting hard to get seat in the train. They even took the train to the last station in the city only to get a seat for their journey to other city. So the people flooded those narrow platform and fight to get in the train. This was quite different with people abroad, especially in Czech, where people didn’t even bother if there were any empty seat next to them. I had an experienced when I was in Czech. Like many Indonesian, I and my friend were fighting hard to get a seat in the subway. We always just seat every time we see any empty seat. That time I was on my way to Indonesian embassy and still did the same thing in train. Right when we met Indonesian staff, he told me that Indonesian is always salient when they were fighting for seat in the train compared by local people who just didn’t even bother about it. I was so ashamed that time that this time I didn’t complain anything. I continue observing the passenger still compared with Czech. Many Czech are reading when they were on train. No matter they were standing or sitting, they were reading. Surprisingly it was not merely a daily newspaper but a thick English book. Compare to passenger in Pramex. I estimated there were around 100 people in this railway coach. However, there were only two people reading book in their hand. One was reading daily newspaper and the other was holding a printed power point slides without reading it. A few of people just staring other or looking around and majority are sleeping! Wow, this was 7 o’clock in the morning!
It is so funny experience that I was smiling even when I finally found that my friend coming to office and I didn’t need to substitute her. Cool, sleeptight.
Posted in amazing events | Tagged: Indonesia channel, late, station, toilet, train | Leave a Comment »