Book Review, Latest

Book Review: Negeri 5 Menara

Judul Buku   : Negeri 5 Menara

Pengarang    : A Fuadi

Penerbit        : PT Gramedia Pustaka

Tahun             : 2009

ISBN No         : 978-979-22-4861-6

Haha, lagi-lagi ini juga sepertinya review yang sangat telat. Bukunya kapan terbit bacanya baru kapan. Hehe. Jujur saja memang saya sebenarnya sudah kurang begitu tertarik membaca buku fiksi karena dengan waktu saya yang padat saya bahkan tidak bisa membaca habis buku-buku referensi HI saya. Cuma kemaren kebetulan saya harus terkapar di tempat tidur beberapa hari dan kebetulan saya menemukan buku ini di lemari ibu saya, jadi saya membacanya biar nggak bosen. Eh ternyata bagus, jadi saya nggak nahan juga untuk mereview-nya. Terlebih menurut saya buku ini memiliki spirit yang sangat cocok untuk awal tahun seperti ini. Who knows pembaca yang belum membaca kemudian mendapatkan secercah semangat untuk tahun baru ini.^^

Buku Negeri 5 Menara bercerita tentang kisah Alif, seorang anak dari kampung kecil Bayur di pinggir Danau Maninjau Sumatera Barat. Dia lebih sering merujuk tempat tinggalnya ini sebagai tempat kelahiran Buya Hamka. Tumbuh dari latar belakang yang agamis, Alif disekolahkan oleh kedua orangtuanya di madrasah. Masalah muncul ketika Alif hendak melanjutkan ke jenjang negeri namun sang ibu memintanya untuk melanjutkan ke sekolah agama. Ibunya berharap Alif dapat menjadi pemimpin agama seperti yang dicita-citakannya ketika melahirkan dulu. Tarik ulur ini kemudian sedikit terpecahkan ketika datang surat dari pamannya Pak Etek Gindo yang sedang berada di Arab. Beliau menceritakan pada Alif tentang sekolah agama bernama Pondok Madani di Jawa Timur yang memiliki kualitas bagus dalam pengajaran agama yang diajarkan dalam dua bahasa yaitu Inggris dan Arab. Sekolah ini telah menghasilkan banyak lulusan hebat yang sekarang kuliah di Mesir sehingga pamannya ini pun merekomendasikan Alif masuk kesana. Tertarik dengan usul pamannya ini, akhirnya Alif setuju untuk merantau ke Pondok Madani dimana kemudian dia bertemu dengan enam orang yang akan menjadi sahabat dekatnya yaitu Said, Raja, Atang, Dulmajid dan Baso. Kehidupan enam sahabat di pondok ini lah yang menjadi cerita utama buku 5 menara ini. Dikisahkan keenam sahabat ini sering berkumpul di bawah kaki menara masjid sehingga mereka sering disebut sahibul menara atau pemilik menara. Suatu ketika mereka menebak-nebak bentuk awan yang kemudian mereka citrakan sebagai negeri dambaan mereka seperti Alif misalnya beranggapan awan tersebut lebih menyerupai benua Amerika, Raja menganggapnya mirip benua Eropa, Baso melihatnya sebagai benua Afrika, Atang sebagai Asia sementara Said dan Dulmajid lebih nasionalis dengan mengklaim itu adalah awan Indonesia. Pertanyaannya kemudian adalah apakah keenam sahabat ini masing-masing dapat menuju ke negeri yang mereka inginkan?

Membaca buku tersebut, saya terkesima banyak hal mulai dari bagaimana penulis menceritakan kehidupan di pondok yang mengingatkan saya pada JK Rowling menggambarkan kehidupan Harry dan teman-temannya di Hogwarts. Sangat real, dekat dan detail. Kemudian dari segi substansi, saya juga kagum dengan bagaimana penulis menyisipkan nilai-nilai dan pesan moral disetiap kejadian-kejadian di buku tersebut. Ada banyak sekali nilai-nilai agama yang cukup menggugah saya. Namun mungkin beberapa nilai yang sangat saya dapatkan dari buku ini adalah pertama nilai berbakti kepada orang tua. Bagaimana Alif begitu mempertimbangkan orang tuanya dalam setiap langkah yang ia tempuh. Afterall, gambaran keluarga Alif sendiri sudah menggambarkan bagaimana keluarga islami yang baik itu seperti apa. Kemudian lebih menonjol lagi adalah nilai ‘Man Jadda Wajada- Siapa bersungguh sungguh, akan berhasil’. Saya paling suka quote “pasang niat kuat, berusaha keras, dan berdoa khusyuk, lambat laun apa yang kalian perjuangkan akan berhasil. Ini sunatullah-hukum tuhan”. Yup, Man Jadda Wajada bukan sekadar semboyan yang kita buat tapi adalah janji Tuhan akan setiap usaha manusia. Saya juga suka dengan nilai keikhlasan yang diajarkan bahwa tidak ada cost and benefit dalam keikhlasan. Juga saya

suka penekanan pada pentingnya menuntut ilmu dan merantau. Saya suka sajak Imam Syafii dan ya ikan paus pun ikut berdoa untuk

para penuntut ilmu.^^

Afterall personally saya sangat menikmati buku ini. Cerita tentang kehidupan dalam pondok gontor sendiri sudah merupakan hal baru untuk saya. Dan terakhir, saya suka dengan tokoh Said. Haha.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 10 other followers

%d bloggers like this: