Daily Life, Latest

How to Make The World A Better Place For You and For me and For All of Us: A Little Thing Called Giving

Saya itu punya ibu yang hobinya numpuk barang. Mulai dari buku-buku sampai baju-baju dan sepatu-sepatu saya sejak saya kecil, semua masih rapih tersimpan di rumah (well, nggak literally rapi juga sih). Makanya saya itu sering protes. Satu, jelas, itu kan cuma menuh-menuhin rumah, bikin rumah berantakan. Dua, ngapain coba disimpen, kan dikasih orang lain juga masih ada yang mau. Malah lebih bermanfaat. Dan jawaban ibu saya selalu sama, “Ya kan buat kenang-kenangan jaman kamu masih kecil. Nanti toh masih bisa dipakai dek ini dek itu (menyebut nama-nama sepupuku). Lagian ibu sering kok kasih beberapa ke orang, kalo ini kan masih bagus-bagus.”

Dan setelah itu munculah perdebatan kami. Saya akan protes karena barangnya masih aja tetap banyak di rumah, sepupu-sepupu saya masih jauh sekali umurnya, dan soal barang-barang yang dibilang masih bagus, coba deh inget lagi kapan terakhir kita memakainya.

Karena sering kali buntu, saya sering secara unilateral menyumbangkan barang-barang saya yang saya beli pakai uang saya sendiri supaya tidak menimbulkan ketidakeanakan. Tapi afterall, kepercayaan saya tetap, bahwa barang-barang ini jauh lebih bermanfaat kalau dipakai orang lain. Terutama saya sebagai muslim ya, kekayaan kita adalah apa yang kita berikan ke orang lain, bukan apa yang kita simpan. Kadang kita merasa tidak cukup kaya untuk membantu orang lain, padahal dengan memberikan barang yang sudah tidak kita pakai ke orang yang membutuhkan, kita sudah membantu mereka, membantu diri kita kelak di akhirat, dan membantu berjuang di jalan Tuhan.

Jeda lama setelah itu, ada suatu titik kedua yang membuat saya semakin kuat ingin mengajak teman-teman lain untuk membiasakan kebiasaan menyumbang ini. Ketika Merapi meletus dan saya dan teman-teman saya mengumpulkan buku-buku untuk diputar di perpustakaan keliling di pengungsian-pengungsian, ada teman saya yang mendonasikan satu kotak penuh buku-buku yang menurut saya bagus-bagus, dan masih lumayan baru yang sebenarnya bisa dia simpan di perpustakaan pribadinya. Saya tanya, apa nggak sayang kamu nyumbangin semua ini. Kata dia, “Ngapain disimpen, orang aku sudah selese baca. Mending kan diputer ke orang lain, jadi ilmunya muter, bukunya tetep manfaat dan amal kita akan tetep muter selama buku itu masih dibaca orang”. Dan saya pun manggut-manggut.

Setelah sampai di US, saya semakin gemes lagi. Perbedaan jelas yang saya alami dari kuliah disini dan kuliah disana adalah masalah ketersediaan buku. Ya ampun kampus saya itu, katanya World Research University, tapi perpusnya miskin sekali buku. Saya inget ketika mau menulis skripsi tentang Uni Eropa, buku terbaru tentang Uni Eropa itu berjudul Understanding Uni Eropa apa ya yang terbitannya tahun 1991. Jadi nggak heran tulisan kami kualitasnya beda dengan tulisan-tulisan di Barat, pengetahuan kami beda dengan pengetahuan disana. Padahal dari orang juga nggak beda. Malah kadang kita ini disini lebih rajin menurutku saya. Jadi ini lebih murni masalah akses dan distribusi. Kalau mau bawa-bawa ilmu ekonomi, bisa dibilang ada satu kelompok orang atau negara yang kelebihan sumber tapi di sisi lain ada kelompok yang membutuhkan. Kalau di Amerika sih perputaran resources ini berjalan lancar, tapi ya secara kapitalis. Dalam hal buku misalnya, biasanya buku-buku bekas itu dijual di shop online untuk dibeli oleh siswa yang mampunya beli bekas dan begitu seterusnya. Saya bisa juga sih ikut cara ini, malah lebih untung kan. Cuma kok sayang ya, di negara saya saja masih sangat membutuhkan dan nggak mampu beli kok malah saya jualnya di Amerika. Justru ini kesempatan saya untuk meredistribusi ketimpangan sumber ini. Makanya kemaren saya pulang Indo, saya bela-belain bawa sekoper isi buku-buku yang saya beli supaya bisa disumbangin ke perpus yang membutuhkan disini.

Saya tahu sih ini tulisan random sekali dan sangat tidak tertata, tapi inti yang mau sampaikan satu, mari kita galakkan memutarkan barang-barang yang sudah tidak kita pakai ke orang yang memerlukan, terlebih itu berhubungan dengan ilmu. Mau lewat jual beli monggo, mau disumbangkan for free Alhamdulillah. Saya tidak berharap untuk mendirikan fondasi atau institusi yang mau menyalurkan buku-buku ini, tapi saya ingin melihat gerakan tanpa komando, melihat ini sebagai projek individu, sebagai kebiasaan yang terinternalisasi dalam diri teman-teman untuk redistribute your unused collections to those in need. Kita tidak perlu frustasi dengan usaha pemerintah mengatasi kemiskinan. Jika setiap individu menjalankan perannya diatas, insyaAllah dunia yang lebih baik bukan lagi sekadar mimpi untuk kita.

Untuk menutup tulisan ini dengan lebih puitis dan tidak nyambung, satu hal yang selalu saya ambil pelajaran dari lagunya Maherzein, lets pray to God to put the world in our hands, not in our hearts =)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 10 other followers

%d bloggers like this: