Uncategorized

Dimana Kami Harus Membuang Sampah? Ironi Masalah Sampah di Pedesaan

Magelang – Masalah sampah, atau bahkan masalah lingkungan, bukan lah masalah yang populer untuk dibicarakan bahkan di tingkat rukun warga di kebanyakan masyarakat pedesaan. Boro-boro, ketika semua orang sedang sibuk berkoar-koar tentang caleg, dan sekarang capres, tidak ada yang mengangkat isu lingkungan sebagai isu yang penting dalam agenda kampanye mereka. Namun faktanya adalah masalah sampah itu ada, eksis, dan tidak bisa dibiarkan. Itu adalah masalah yang semua orang tidak ingin peduli, tapi jika tidak ada yang peduli, semua akan terkena dampaknya kedepan.

 

Selama ini masalah sampah seringnya dikaitkan dengan masalah perkotaan. Tidak heran, di kota penduduknya jauh lebih banyak dan semua kegiatan perdagangan berpusat disana. Namun, ada beberapa hal yang membuat masalah sampah di pedesaan lebih sulit dibandingkan di perkotaan.

 

Pertama, masyarakat kota, karena sudah mentok dengan masalah sampah, lebih memiliki kesadaran untuk mau peduli dengan sampah baik dalam pembuangan maupun pengelolaannya. Saya ingat pernah mengantar teman ke sebuah kelompok masyarakat kota di belakang pasar yang akhirnya tidak hanya dapat menertibkan pembuangan sampah, tetapi juga mengelolanya sebagai industri kreatif rumah tangga setempat.

 

Masyarakat desa, sebaliknya, tidak melihat sampah sebagai masalah bagi mereka. Mereka bisa membuang dan membakar campuran sampah basah dan kering disamping rumah atau melemparkannya ke sungai terdekat dan memendam sampah kaca di bawah pohon atau di pekarangan tak terurus di belakang rumah.

 

Tapi justru itulah masalahnya. Sampah yang dicampur sudah jadi masalah sendiri. Pertama, sampah yang bisa didaur ulang asal dibakar dan menjadi tidak berguna lagi. Kedua, sama halnya, sampah basah yang bisa jadi pupuk pun juga dibakar dan mengurangi, jika tidak menghilangkan, tingkat kesuburannya. Kebiasaan pembakaran sampah dekat pemukiman penduduk pun juga tidak baik bagi kesehatan warga setempat selain jelas mengurangi nilai kebersihan dan keindahan lingkungan sekitar. Apalagi sampah yang dibuang di sungai, sifatnya sangat kepentingan jangka pendek. Mereka tidak peduli kemana dan bagaimana akhir dari sampah mereka, yang penting sampah mereka hilang dari depan mata. Ke depan, masalah sungai mampet, banjir, bau, dan pencemaran lingkungan jadi isu takterelakkan. Ini belum menyebutkan masalah pemendaman pecahan kaca di pekarangan belakang rumah atau bawah pohon yang membahayakan anak-anak atau siapapun yang kedepan berkepentingan terhadap pekarangan tersebut.

 

Sayangnya dengan semua masalah ini, dinas lingkungan hidup pun atau yang terkait belum menyentuh lapisan masyarakt pedesaan. Di kota, masih beruntung ada petugas kebersihan yang rutin mengambil sampah pada lokasi-lokasi tertentu sehingga masyarakat tahu kemana harus membuang sampah. Namun di desa opsi ini tidak ada, sehingga menyalahkan warga dengan semua tindakannya tersebut juga tidak sepenuhnya fair. Apalagi menyuruh mereka membeli tempat sampah pisah dan mendedikasikan sebagian lahannya untuk pembuangan sampah organik dan pembakaran sampah non organik. Untuk berpikir kebutuhan hidup sehari-harinya saja mereka sudah sulit, apalagi memikirkan masalah yang untuk mereka masih terasa jauh.

 

Saya sendiri juga hanya seorang warga yang lebih banyak tidak berada di rumah dan tidak memiliki pengaruh. Saya tidak bermaksud untuk hanya asal ngomong tanpa tindakan. Tapi melalui kapasitas saya sebagai penulis blog, saya berusaha membantu dengan mengangkat isu ini agar siapapun yang merasa berbagi masalah yang sama atau malah berasal dari instansi terkait usul ide untuk mencari solusi masalah ini.

 

Saya sendiri ada beberapa opsi yang mungkin bisa diaplikasikan di tempat lain juga. Yang pertama jelas dimulai dari skala rumah tangga kita sendiri. Paling tidak di rumah kita, diusahakan ada dua tempat sampah terpisah di dalam rumah, satu tempat sampah organik, dan yang kedua tempat sampah non-organik. Dari situ, halaman rumah kita, juga, kalau bisa, ada dua tempat pembungan sampah, yang pertama untuk pembuangan sampah organik, yang kedua untuk pembakaran sampah non-organik. Sampah-sampah kaca, dikumpulkan untuk sebulan sekali dibawa ke loak atau ke tempat yang mampu menampung sampah-sampah tersebut.

 

Dalam ranah masyarakat setempat, bisa juga dimulai dari gerakan ibu-ibu PKK. Paman saya kemarin usul agar ketika kumpul ibu-ibu PKK dilakukan sosialisasi dari dinas lingkungan hidup. Saya sendiri mengusulkan agar paling tidak setahun sekali pas Agustusan, misal, diadakan lomba “dapur bersih, halaman sehat”. Konsep lomba ini intinya mempertandingkan kebersihan dapur dan halaman rumah setiap warga di suatu dusun atau rukun tetangga berdasar kriteria tertentu terkait pembuangan dan pengelolaan sampah. Nanti pemenangnya mendapat piala penghargaan dan uang pembinaan sehingga warga mendapatkan insentif untuk berpartisipasi dan berusaha menjaga kebersihan rumahnya. Syukur-syukur jika lomba serupa dapat diadakan di tingkat yang lebih tinggi sehingga nanti setiap dusun paling tidak termotivasi untuk memiliki titik-titik pembuangan dan pengelolaan sampah untuk pupuk atau industri kreatif.

 

Terakhir, isu ini bisa dijadikan tema KKN untuk mahasiswa tingkat akhir. Kelemahan dari program KKN selama ini adalah masalah kontinuitas, tapi saya pikir tidak ada salahnya untuk dilakukan sosialisasi dan gerakan dari anak-anak muda ini yang biasanya lebih dipercaya dan diberikan kebebasan untuk berinisiatif daripada jika ide itu berasal dari sesama warga. Terlebih jika Dinas Lingkungan Hidup sendiri kemudian dapat menjangkau desa, itu jauh lebih baik.

 

Sebagai penutup, saya sadar betul semua ide dan bahasan tentang sampah ini bukan ide baru. Namun, dalam pandangan saya, selama masalah sampah ini ada, selama itu ide-ide dan bahasan tentang sampah tetap relevan dan diperlukan J

Discussion

One thought on “Dimana Kami Harus Membuang Sampah? Ironi Masalah Sampah di Pedesaan

  1. terima kasih informasinya, ini sangat membantu🙂

    Posted by kartika | October 9, 2014, 7:22 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 10 other followers

%d bloggers like this: