On Travel

Escaping Winter: Its Summer in Panama City! (Bahasa Edition Part 1)

Haha, saya tahu sih ini sudah beberapa saat setelah kepulangan saya dari Panama. Well, satu bulan malah. Tapi saya pengen aja nyempetin nulis cerita saya, sayang juga kalo terlupakan. At least ketika saya menuliskannya, nanti ketika tua saya masih bisa ingat saya ngapain aja disana. Haha. Dan tentu saja tulisan bahasa Indonesia ini, saya harapkan lebih bisa mengenalkan Panama ke pembaca di Indonesia. It is a worth tourist destination afterall =)

Ceritanya bermula ketika saya berencana untuk mengunjungi teman lama saya di Panama City. Kami bertemu dulu di acara International Youth Leadership Conference di Praha. Jadi, itung-itung reunian dan reconnect dengan teman gitu. Karena visa saya keburu expired summer ini, jadi ya saya terpaksa pergi dipenghujung winter ini. Tapi bagusnya saya jadi bisa kabur dari dinginnya winter di Amerika. Oh yeahhh, saya kembali ke negara tropis. Haha.

Persiapan kesana terhitung ‘sedikit ribet’. Penerbangan sih nggak ada masalah. Setelah mencari-cari maskapai yang bagus dan harganya ‘terjangkau’, saya memilih naik Copa Airlines – maskapai nasionalnya Panama yang katanya sih, terkenal ontime. Waktu itu dapet 400an dolar, cuma sama pajak dst jadi 500an. At least nggak perlu bayar airport tax lah. Urusan keimigrasian juga lancar karena untuk semua kewarganegaraan yang memiliki visa Amerika Serikat,  tidak perlu mendaftar visa. Kami hanya harus membayar tourist card seharga 30 dolar ketika sampai di imigrasi yang ternyata itupun nggak bayar karena sepertinya sudah termasuk di dalam harga tiket. Yang sedikit ribet mungkin untuk info kesehatan. Well, nggak terlalu ribet sih sebenarnya, cuma mungkin karena sayanya aja yang sangat berhati-hati kalo berurusan dengan yang begituan jadi harus bener-bener memastikan aturannya bener. Ceritanya pemerintah Panama City menerapkan aturan agar visitor wajib untuk vaksin Yellow Fever, minum obat antimalaria dan beberapa jenis vaksin lain. Tapi itu bervariasi untuk tiap negara. Kebetulan yang dari Amerika Serikat, sifatnya hanya rekomendasi aja. Kalau mau ke Panama City sekitarnya nggak papa nggak pake vaksin tapi kalo mau ke provinsi di sisi Atlantik direkomendasikan pake vaksin. Karena saya orangnya itu patuh hukum, tau ribetnya aturan imigrasi Amerika kayak apa, dan karena males harus bayar mahal untuk vaksin; jadi saya memutuskan untuk ke Panama City dan sekitarnya aja. Padahal, fyi, semua pantai-pantai yang bagus, yang istilahnya ‘Bali-nya’ sana itu di sisi Atlantik. But that’s ok. Saya kan juga kesitu cuma sebentar aja, mengeksplor satu kota pasti sudah habis waktu saya =)

Hari keberangkatan

my boyfriend's bag always accompany my travel despite he is not with me!

my boyfriend’s bag always accompany my travel despite he is not with me!

Di hari-H, saya naik super shuttle ke bandara Dulles. Mengingat belum ada metro yang langsung ke Dulles, jadi super shuttle mungkin transportasi paling nyaman untuk ke Bandara. Walopun harus mengeluarkan sedikit lebih uang sih.

Urusan bandara dan imigrasi berjalan lancar. Petuga imigrasinya juga ramah. Haha. Saya masih suka agak khawatir kalo berurusan sama imigrasi US karena berjilbab jadi takutnya masih ada stereotype.

Setelah lama menunggu di bandara, akhirnya boarding juga. Waktu itu saya sempet mikir saya salah antrian karena disitu banyak sekali anak-anak Yahudi, mungkin sepertiga lebih kali dari isi pesawat. Saya takutnya saya malah antri di tempat Emirates karena di gate sebelah adalah antriannya Emirates. Ternyata later on saya tahu dari teman saya kalau di Panama City memang ada komunitas Yahudi yang cukup besar. Mereka itu termasuk yang menguasai perekonomian di kota, mall-mall, dan toko-toko. Sampai jalan utama pun ada lho yang namanya Via Israel. Oh wow, benar-benar fakta yang menarik. Soalnya saya blas nggak pernah kepikiran banyak Yahudi di Amerika Latin. Nggak papa sih, saya cuma kaget aja. Pelan-pelan puzzle saya dari dulu terjawab kenapa Panama menolak diterimanya Palestina sebagai anggota PBB. Walopun itu bisa juga simply karena dia dekat dengan US sih.

Anyway, saya semakin nggak sabar untuk tiba di Panama City. Sepertinya akan semakin banyak suprise-suprise yang menunggu. Empat setengah jam berlalu melalui hamparan kepulauan di Karibia dan akhirnya untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di wilayah Amerika Latin!

Petugas Bandara dan Akhir Hari Pertama

Tiba di bandara, saya stuck di imigrasi untuk verifikasi paspor. Nggak kaget sih saya kalo urusan beginian. Nggak tahu sebabnya apa tapi sebagai orang berjilbab kayaknya sudah terima aja. Hehe. Cuma kemudian malah ada hal menarik sama mbak-mbak yang masih muda yang menjaga pos imigrasi. Seperti obrolan-obrolan di tempat lain, mbak-mbak itu bertanya banyak sekali tentang kenapa saya pake jilbab. Sudah menjelaskan hal seperti itu saja sulit, apalagi dianya nggak bisa bahasa Inggris. Jadinya saya mau nggak mau merefresh lagi bahasa Spanyol saya yang sudah tidak saya praktikkan selama lima tahun. Hadeh, frustasi rasanya ketika kita pengen menjelaskan banyak hal tapi kita sendiri nggak bisa bahasa Spanyol apalagi ketika sudah menyangkut isu poligami dan teman-temannya. Jadinya dia kurang mantep gitu. Yang saya kaget malah awalnya dia nggak tahu saya itu muslim. (Dan later on banyak juga orang yang saya temui di Panama nggak tahu saya muslim simply karena kebanyakan muslim disini mereka memakai burqa). Cuma mungkin satu hal yang saya pelajari disini adalah ketika kita ditanya kenapa make ini, kurang tepat kalo kita bilang karena kita muslim. I mean, memang sebagai muslim kita diminta untuk menutup aurat kita. Tapi menjawab seperti  itu terasa dangkal karena seakan agama lah yang menyuruh kita seperti itu tanpa kita tahu gunanya apa. Toh suster-suster dan wanita di beberapa agama lain juga pakai penutup kepala, pakai baju yang sopan. Its afterall for protection and modesty. Tapi ya sudah lah, mbaknya belum puas tapi urusan paspor saya sudah selese.

Fuih, akhirnya ketemu juga saya dengan teman saya yang waktu itu menjemput dengan kakaknya. Kakak temen saya ini juga namanya Aisha. Dia nggak tahu kenapa ayahnya memberinya nama itu tapi dia tahu kalo nabinya orang Islam istrinya namanya Aisha. Haha, ada-ada saja. Malam itu saya senang disambut hangat oleh keluarga teman saya. Mereka semua sangat ramah. =)

Image

Discussion

2 thoughts on “Escaping Winter: Its Summer in Panama City! (Bahasa Edition Part 1)

  1. Belaaaaa…. Ahahahaha… aku seneng baca posting kamu yang ini. Secara aku banyak punya temen orang Panama, and they all are very very super nice! And I plan to visit the country one day. Semoga kesampaian deh yaaa😀

    Posted by Utami | January 11, 2014, 4:23 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 10 other followers

%d bloggers like this: