On Travel

Winter Break – New York Trip (Part 2)

Ketika masih di New York kemarin, saya itu sangat menggebu-gebu pengen menulis kisah saya di blog, eh giliran sekarang sudah nyampe rumah dan punya waktu untuk nulis malah sudah malas. Haha. Dasar manusia. Tapi baiklah, kita lanjutkan saja cerita perjalanan saya di New York pada hari kedua.

Di hari kedua ini, saya janjian ketemuan sama teman-teman saya yang kebetulan sedang berkunjung ke New York juga. Mereka tinggal di tempat teman mereka yang kebetulan temannya teman saya jadi saya diantar deh ke tempat teman tersebut. Teman ini namanya Theo, dia tinggal di daerah Harlem yang dulu, dan sepertinya sampai sekarang, merupakan daerah konsentrasi orang kulit hitam. Menurut cerita teman saya, karena penduduk kulit hitam di daerah Harlem semakin membludak, sebagian dari mereka kemudian membanjiri daerah The Bronx yang dulunya didominasi oleh kelas menengah atas kulit putih. Kulit putih sendiri kemudian terkonsentrasi di daerah downtown Manhattan atau Brooklyn. Sementara itu, Queens, tempat teman saya tinggal, didominasi pendatang-pendatang baru dari Asia. Ini bukan bermaksud rasis lho ya, tapi memang menarik melihat dinamika ‘segregasi’ etnis di New York. Well, I’m culture lover =)

Kembali ke topik. Begitu ketemu Theo, saya diantar ketemuan dengan teman-teman saya yang sedang berkeliling Columbia University tempat Theo belajar. Mengagetkan bukan universitas sebesar ini justru terletak di wilayah Harlem? Lebih mengagetkan lagi karena saya bahkan baru tahu Columbia itu di New York. Haha, parahnyaaa. Tapi harus saya akui universitas ini besar dan megah. Banyak bangunan-bangunan tua yang bisa dijadikan tempat berfoto ria seperti patung almamater di halaman utama. Kami juga sempat masuk ke campus store-nya untuk membeli oleh-oleh. Ini nih yang sekarang sedang bingung. Saya itu pengen mengoleksi sesuatu setiap kai saya berkunjung ke suatu tempat, tapi bingung apa yang mau saya koleksi. Ada ide kah? Sejauh ini sih saya selalu membeli tempat minum yang literally bertuliskan tempat yang saya kunjungi atau dalam hal ini Columbia University, tapi kok saya pikir-pikir aneh juga ya. Hehe.

Puas mengunjungi Columbia dan sekitarnya, kami turun ke downtown, ke Macy’s tepatnya.Si Theo katanya mau mengembalikan jaket atau entah kenapa saya nggak dong. Tapi yang jelas Macy’s saat itu menggila. Isinya lautan orang. Mbak Ayu, temen saya yang saya tebengi, bilang dia stres disini orang seakan di pushed untuk belanja dan belanja terus. Haha, I feel the same way by the way. Tapi ya begitulah negara liberal kapitalis. Macy’s sepertinya salah satu agen yang berhasil menarik banyak pengunjung dengan slogannya ‘The Magic of Macy’s’ =)

Di depan Macy's

Di depan Macy’s

Setelah cukup lama menunggu para cowok berbelanja, kami rehat beli makan. Dan menyedihkannya, pilihan jatuh pada Pizza Hut yang terletak hanya di seberang Macy’s. Tapi baiklah, kita coba gimana rasanya pizza hut disini. Dari tampakan restonya aja sudah kontras dengan pizza hut di Indonesia yang terlihat cukup mewah, bersih, dan pelayan-pelayannya sangat ramah. Disini, udah nggak beda sama McD kotornya. Rasa pizzanya pun, setelah kami coba, tidak seenak yang di Jogja.

Mari kita lanjutkan perjalanan saja. Sore kami agak geje sebenernya karena mau kemana-mana serba ngantri termasuk ke Empire State building. Beberapa teman juga sudah pernah ke New York sebelumnya jadi kurang tertarik dengan mengunjungi tempat-tempat tujuan turis yang rame. Jadilah kami jalan-jalan di shopping center, keluar masuk toko, dan kemudian jalan ke Times Square. Well, paling nggak kami bisa mencentang salah satu tempat wajib dikunjungi di New York ;p

Ada cerita menarik ketika kami berjalan menuju Times Square yang ramenya minta ampun. Kami melihat mbak-mbak seniman yang sedang melukis kota New York dengan menggunakan pilox. Gara-gara kami mengerumi mbaknya, orang-orang mulai ikut berkerumun juga. Menarik memang. Dan mungkin saking polosnya kami baru pertama kesitu, kami yang so amazed dengan atraksi tersebut dan kami kasih uang ke kotak yang disediakan. Saya sendiri sampai memesan salah satu lukisannya yang seharga 15 dolar. Saya minta ditulisin ‘untuk bela’ di lukisan tersebut biar spesial. Niat saya nyicil lah buat dekorasi rumah saya nanti. Daripada bingung juga kan beli kenang-kenangan di New York. Eh ternyata semakin kami jalan memasuki Times Square kami menemukan semakin banyak seniman yang menawarkan jasa serupa -_-“ Times Square ternyata is only another Malioboro.

Sesampai di Rockefeller center, tujuan akhir kami malam itu, kami give up. New York malam itu sangat dingin tapi orang-orang masih membanjiri pusat kota hanya untuk berjalan-jalan ke Times Square dan melihat pohon natal. Benar-benar tidak bisa dinikmati. Akhirnya kami pulang ke tempat masing-masing. Dalam hati mungkin saya besok jalan-jalan sendiri saja. Habis saya pasti banyak maunya, mau kesana kesini. Daripada merepotkan kan? So, mari kita tunggu kisah saya berkelana sendirian di hari ketiga. Lebih suram atau lebih menyenangkan?

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 10 other followers

%d bloggers like this: