On Travel

Winter break – New York Trip (Part 1)

Aih, sudah lama sekali ya rasanya saya tidak jalan-jalan. Apa mungkin saya jalan-jalan tapi tidak saya tulis di blog saya ya. Haha, anyway, kali ini saya mau bercerita tentang perjalanan saya ke New York untuk pertama kalinya, yang juga berarti pengalaman naik bis saya yang pertama keluar dari Washington, DC =)

Alkisah, saya itu termasuk telat merencanakan winter break saya dibandingkan temen-temen lain. Well, bukan apa-apa sih, selain mungkin waktu kuliah yang sangat menyita perhatian saya, saya simply bingung aja mau kemana kalau jalan-jalan di Amerika. Soalnya, saya itu tipe orang yang lebih suka jalan-jalan ke tempat kultural, ethnic quarter dan segala sesuatu yang berbau tradisional, jadi bener-bener tidak punya ide pengen kemana kalau di Amerika. Hehe. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengunjungi teman saya saja di New York. Selain deket, saya toh juga belum pernah kesana. So, jadilah seminggu kemarin saya berkelana sendirian ke Empire State.

Bis Bis Bis

Karena apatisnya saya terhadap travelling di Amerika, saya jadi buta informasi tentang transportasi disana. Satu-satunya yang saya dengar ya cuma Megabus yang katanya kalau kita pesan jauh-jauh hari bisa bayar cuma satu dolar kemana-mana. Tapi karena saya pesannya lumayan mepet dan memang pas natal juga, saya kena 25 dolar one way. Tiket pulang malah kena 30 dolar karena saya pesannya lebih mepet lagi. Waktu itu saya belum pasti akan pulang tanggal berapa jadi nggak bersamaan belinya.

Dianter keluarga disini ke Union Station, saya mengantri setengah jam sebelum keberangkatan karena memang tempat duduk kita belum ditentukan. Buset memang sistem di Amerika itu, tidak manusiawi menurut saya. Saya inget dulu ketika saya backpack ke Malaysia naik bis, kami itu bisa duduk sembari menunggu bisnya datang. Antri berdiripun cuma bentar. Nah disini, orang-orang pada berangkat pagian biar dapet tempat duduk enak dan nggak ada itu disediakan bangku untuk duduk. Udah gitu tempatnya kan terbuka kan dan ini winter, jadi ya bisa kebayang lah gimana dinginnya menunggu setengah jam itu.

Jam sepuluh lebih sedikit, kami akhirnya bisa masuk bis. Ini juga yang saya bandingkan dengan bis di Malaysia. Well, sebenarnya memang saya nggak bisa membuat generalisasi karena baru pertama kali saya naik bis di kedua negara, tapi ketika di Malaysia dulu aja bis berangkat telat tiga sampai lima menit saya sudah muring-muring karene terbiasa ontime di Singapura. Eh ini, jadwal jam sepuluh, jam 10.15 belum jalan. Udah gitu ternyata ada masalah teknis dengan mesinnya yang membuat kita harus ganti bis dan baru berangkat satu jam kemudian. Belum cukup dengan masalah itu, bis kamu berhenti cukup lama di Newark karena ada pergantian supir yang mana supir penggantinya belum datang. Akhirnya, dengan semua permasalahan dan kemacetan di jalan menjelang natal, beberapa penumpang marah dan terjadi sedikit adu mulut dengan supir. Well, dari schedule empat setengah jam perjalanan, kami molor dua kali lipatnya jadi delapan jam perjalanan.

Saya ingat betul waktu itu saya desperate di bis karena empat, lima jam berlalu, saya belum juga melihat peradaban yang saya harapkan dari kota New York. Sepanjang jalan isinya pohon aja. Malah mirip di Kansas menurut saya. Maksud saya kalau sudah keliatan gedung-gedung tinggi dari jauh itu berarti kami sudah mau sampai. Tapi memang epic ketika kami akhirnya menyebrangi New Jersey dari bagian yang lebih tinggi dan bisa melihat New York malam hari sampai kemudian memasuki Lincoln Tunnel yang menjembatani keduanya. Bener-bener bagus! Empire State Building waktu itu berwarna merah dan hijau seperti pohon natal.

New York – First Impression

Kami diturunkan di downtown Manhattan antara 28th Street dan 7th Avenue. Kata teman saya, saya bisa naik kereta R dari 5th Ave ke apartemennya di Rego Park. Jadi saya asal aja jalan dua blok dari situ. Komentar saya melihat pemandangan disini, New York is more Indonesian compared to DC. Bener-bener lebih menyerupai Jakarta menurut saya. Bangunan-bangunan tinggi tapi juga kawasan-kawasan ruko-ruko dengan berbagai macam barang dagangannya. Jujur saya langsung kurang suka karena disini terlihat kotor dan banyak sampah dimana-mana.

But anyway, too early too judge, sudah malam juga. Begitu menemukan subway di 5th Avenue, saya langsung membeli metrocard yang 7-day pass seharga 29 sesuai saran teman saya. Dengan pass ini, kita bisa naik semua angkutan sebanyak yang kita mau sampai batas waktu tujuh hari. In this case, saya lebih suka New York dibanding DC. Disini, nggak peduli jauh deket kita neik metro, harga one way-nya sama 2.50 dolar. Kalau di DC kan jauh dekat itu berpengaruh dan mahal pula kalau sedang peak-hours.

Begitu memasuki peron, saya tanya ke ibu-ibu yang berdiri di sebelah saya, memastikan kalau saya berada di peron yang benar untuk kereta R ke uptown Queen tempat tinggal teman saya. Dan ternyata salah posisi. Haha. Peron tempat saya berdiri adalah untuk kereta R ke arah downtown. Parahnya lagi untuk bisa mengambil kereta yang berlawanan arah, saya nggak bisa seenaknya nyebrang pake tangga penyeberangan seperti di DC karena disini nggak ada. Instead, saya harus ikut kereta ini dulu sampai ke 14th street baru bisa ambil kereta ke arah yang berlawanan. Hadeh, rempong banget ini sistemnya. Udah gitu yang bikin saya keki adalah ketika saya sudah masuk di kereta bersama dengan pasangan muda. Cowoknya waktu itu komplain kok ini gerbong padet banget dan ceweknya, seperti bisa ditebak, bilang karena ini kan menjelang natal. Pas mereka bilang begitu, kereta mau jalan dan saya belum sempat pegangan karena sedang membenarkan coat saya. Saya agak limpung, terus si cowok dengan innocentnya bilang “well, at least now we know who the tourist is”. O-M-G, ini orang pengen dijitak. Baru tinggal di New York aja udah marmos gitu. Saya lho malah dari ibu kota (penting ya).

Tapi ya, nggak ada gunanya juga ribut sama orang ini. Saya lebih tertarik mengamati orang-orang disini dan tentu saja pemberhentian-pemberhentian kereta biar nggak kebablasan. Sekitar jam tujuh, saya akhirnya sampai ke apartemen teman saya. Banyak yang bisa diceritakan tentang Rego-Park, tapi kita simpan untuk bagian selanjutnya saja. Sekarang saya mau sarapan =)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 10 other followers

%d bloggers like this: