Other Scratches, Uncategorized

Fulbright Series: Dinner with Lawrence Family

Haha, my experience last night drives me to write my first post since my arrival in United States three weeks ago!

Singkat cerita, enam minggu ini saya ada acara summer program di University of Kansas, Lawrence. Kami tinggal di dormitory di dalam kampus dan setiap hari diantar jemput ke kelas kami dari jam 8 pagi sampe jam 5 sore. The rest kami mengerjakan PR yang setiap hari menumpuk atau kadang pergi ke downtown masstreet atau walmart untuk membeli keperluan. Makanya, saya senang sekali ketika diberitahu ada program dinner dengan keluarga Lawrence semalam. Saya itu tipe orang yang kalo pergi ke suatu tempat ya kalo bisa bener-bener membaur, merasakan aslinya tempat tersebut dan kalo bisa merasakan pengalaman yg turis biasa tidak bisa merasakannya. Dan buat saya ini salah satunya. Apalagi mengunjungi rumah keluarga Amerika. Seumur-umur saya belum pernah dan sangat penasaran gimana rasanya tinggal di rumah-rumah kayu itu. Well, anyway intinya saya itu banyak maunya, banyak penasarannya jadinya saya excited sekali ketika Jannet Huchingson menjemput kami di dorm. I am very dressed up for this dinner!

I dont know where the house is exactly located. Seperti yang sudah saya bilang, saya tahunya hanya KU – Masstreet. Dan kali ini, Jannet membawa kami keluar kota jauh di daerah pedesaan Lawrence kalo boleh saya bilang. Sekitar 20 menit perjalanan. Ini untuk pertama kalinya saya melihat sawah-sawah di Lawrence, jalan yang tidak sepenuhnya bagus dan binatang-binatang liar! Tapi itulah hal menarik yang saya temui semalam. Kita di Indonesia, orang-orang berbondong-bondong memilih untuk tinggal di kota. Tinggal di desa selalu dikaitkan dengan ketertinggalan, kemiskinan dan tentunya ketidaknyamanan. Tapi disini, paling tidak yang saya temui di Lawrence, banyak sekali orang-orang, tidak hanya yang tua, lebih memilih untuk tinggal jauh dari kota. Rumah keluarga Huchingson ini benar-benar diujung bukit pertanian. Di samping rumahnya sudah ada tulisan dead end dan itu kalo malam nggak ada lampu jalanan. Udah gitu jarak satu rumah ke rumah lain sangat jauh. Setiap hari harus ke downtown untuk belanja makanan. Cuma mereka sama sekali tidak mengeluhkan ini. Mereka lebih menikmati kesunyian dan keindahan pemandangan disekitarnya. Dan ketika saya sampai ke rumah mereka, saya tidak lagi kaget karena buat saya memang tempatnya wonderful.  Bener-bener di puncak bukit dan begitu membuka jendela atau ke teras katakanlah itu kemana mata memandang ijo semua, hamparan sawah, bener-bener indah. Udaranya sangat sejuk dan burung-burung masih terbang kesana kemari di halaman rumah kita. Oh wow banget pokoknya. Ini foto yg saya ambil dari teras yang mungkin kurang representatif tp nggak papa lah. hehe.

Oh ya sekadar info aja, kalau mau bangun rumah disini orang harus punya lahan minimal 11 hektar. Buset ya. Tujuannya sih biar daerah sini nggak jadi daerah pemukiman padat.

Anywayyyy, sampe disana kami terus diajak menjelajahi rumah Huchingson. Haha. ini bagian yang paling saya suka soalnya saya emang nggak nahan kalo disuruh lihat-lihat interior rumah. Kecil sih rumahnya, tapi sangat nice, klasik dan homy. Rumah ini sudah sangat tua, milik keluarga besar Jannet. Disini banyak koleksi lukisan dari berbagai negara yang pernah Jannet kunjungi. I love the way she manage all these stuff and love the way how these elderly in US still have spirit to travel, to do exercise and to do other things. Jannet dan John sendiri berencana hiking ke west coast selama akhir summer ini. Mereka sangat senang menjamu mahasiswa internasional ke rumahnya karena mereka bisa belajar banyak hal dari pertemuan singkat itu. And I wanna do the same later I have my own house!

Oke, ini judulnya dinner malah ngalor ngidul yg diomongin. Jannet memasak oseng buncis, daging domba, salad buah maple, cookies dan es krim. Sesimpel apapun itu tapi masakan ini jauh lebih fresh dan jauh lebih berasa daripada yg kami biasa makan di Mrs. E’s. Saya aja sampe tandhuk makannya. Kami bercerita banyak setelah makan. Mungkin tidak hanya mereka yang dapat info dari kami, tapi sesama kami pun (saya, sahib, abdul dan vikie) jadi dapet info dari satu sama lain yang selama ini belum kami tahu. Oh ya, ternyata kemaren adalah 10 anniversary John dan Jannet dan mereka ketemu satu sama lain dijodohin anaknya di match.com!

Fuih, akhirnya setelah ber-wow, wow-an di rumah Huchingson, kami diantar pulang ke Hasinger, dorm kami. What a great night.  I took this picture just before we left.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 10 other followers

%d bloggers like this: