On Travel

KL Trip 2011: Another insight for Foreign Travellers

Tahun ini untuk keempat kalinya saya mengunjungi Kuala Lumpur, Malaysia. Mengingat banyaknya respon positif terhadap pengalaman saya sebelumnya tentang backpacking ke Malaysia, saya menulis ini sebagai tambahan informasi bagi para peminat travelling ke negari jiran tersebut. Semoga bermanfaat =)

 Back To Malaysia

Cerita punya cerita, saya dikirim kantor saya untuk mengikuti konferensi tentang Asia Tenggara yang diadakan oleh Universiti Malaya. Meskipun hal ini telah direncanakan jauh-jauh hari dan bahkan bulan-bulan sebelumnya, jadwal penelitian lapangan yang baru saja ditentukan membuat semua rencana tersebut kacau karena itu berarti saya akan berada di Bandung pada waktu-waktu di sekitar konferensi dan bisa dipastikan saya akan sangat sibuk dengan kegiatan di lapangan. But what can we expect, akhirnya persiapan saya sangat rush. Saya dapat  tiket mahal banget dan berangkat pagi buta dari Bandara Husein Sastranegara.

Ini yang menarik. Sebelum-sebelumnya, saya ke KL selalu melewati jalur darat, menyebrang dari Singapura. Jadi ini untuk pertama kalinya saya memasuki KL lewat bandar udara di Sepang (^,^). Saya shock juga ternyata dekat bandara Sepang sangat sepi peradaban. Perjalanan dari bandara ke kota aja memakan waktu sampai dua jam. Mampus, saya sudah tanpa dosa banget memesan penerbangan jam 6.30 pagi T_T

But anyway,yang sudah terjadi biarlah terjadi. Tiba di KLIA (sebutan bandara internasional KL), saya menunggu temen saya dulu. Jadwal penerbangannya dari Jogja kebetulan lebih lambat 45 menit daripada dari Bandung. Agak krik-krik sih. Tapi begitu ketemu, kami langsung heboh menyusun strategi. Maklum, selain jadwal kepulangan yang sangat pagi, kami juga belum memesan penginapan. Haha, benar-benar kacau ya.

Bertempatkan di McD (saya selalu melanggar aturan makan saya ketika saya di luar T_T), kami berdiskusi panjang sembari curhat pengalaman lapangan kami masing-masing. Awalnya kami berencana untuk menelpon guest house universitas, tapi bahkan kami tidak punya koin untuk telpon dan tidak tahu juga bagaimana caranya menelpon. Akhirnya, kami memutuskan untuk ke bukit bintang saja dulu, mencoba menginap di hotel dulu tempat saya menginap barang sehari kemudian setelah paginya bertemu panitia, kami akan meminta bantuan mencari hotel terdekat.

Kami lalu membeli tiket bis Aerobus dari bandara ke KL central, pusat semua transportasi yang beredar di Kuala Lumpur. Harganya lumayan 8 ringgit atau 1 ringgit lebih murah daripada naik skybus punyanya airasia. Ibu penjual tiket mengatakan kami harus naik monorail seharga 2 ringgit begitu sampai Central untuk menuju ke Bukit Bintang.

Seems to be a perfect plan. Tapi yang namanya perjalanan spontanous kan nggak pernah tau apa yang akan terjadi. Begitu sampai di Central, semua rencana awal kami berubah. Kami bertemu dengan seorang mahasiswi Pahang yang meskipun kurang tau arah berusaha keras membantu kami mencari jalan ke monorail yang menuju Bukit Bintang. Tapi apalah daya, paling tidak dari dia kami jadi tahu kalau Universiti ada di bagian barat Central dan Bukit Bintang ada di bagian Timur. Jadi kenapa nggak kita cari penginapan dulu disini baru kalau tidak ketemu kita ke Bukit Bintang.

Jadilah kami menyusuri jalan di dekat Central dan hanya sekitar 100 meter, kami menemukan satu hotel kecil yang tampaknya cozy bernama Hotel MackTZ.

 Hotel MackTZ

            Saya sangat merekomendasikan hotel ini bagi pembaca yang baru pertama kalinya ke KL. Selain berada di Central, pusatnya transportasi KL, hotel ini lokasinya sangat strategis, hanya berada 100 meter dari perempatan Central. Keluarlah dari Central menuju perempatan, menyebrang jalan dan berjalanlah sedikit ke kanan ke Jalan Tun Sambanthan, Brickfields hingga menemukan plang hotel tersebut.

Selain lokasi, hotel tersebut murah. Saya dan teman saya memesan kamar standar double bed seharga 85 ringgit per malam. Murah untuk ukuran pusat kota seperti ini. Bahkan ini masih lebih murah daripada hostel saya dulu di bukit bintang. Yang lebih penting, tidak hanya murah tapi juga worth it. Untuk ukuran harga seperti itu, saya sudah mendapatkan kamar mungil yang bersih, cozy, ber-AC, wireless, kamar mandi dalam, dekat dengan dispenser dan ironing station. Nggak takut lagi deh baju terlipat di tas. Haha, kok saya malah promo.

Tapi satu hal lagi yang pantas saya sebut disini, pelayan disini sangat ramah (atau mungkin kebetulan saja). Selain mbak pembersih kamar yang juga dari Indonesia, mas-mas resepsionis partime yang juga kuliah di UM juga sangat ramah dan helpful. He helped us alot during our stay in KL.

But anyway, sore itu kami nggak kemana-mana, tepar di kamar sembari, lagi-lagi, sharing pengalaman kami di lapangan (kok kayaknya nestapa banget ya diceritain mulu hehe). Kami cuma pergi makan malam sebentar di Food Court Central. Habis bingung juga kami mau cari makan dimana. Not that delicious even when the food is indonesian hand-made. Cuma surprisenya baru kami lihat-lihat kerudung eh ketemu mbak Nisa, senior saya yang juga ikut konferensi. Dia menginap di my hotel @central yang juga deket kami. Nah, ini hotel juga recomended dan lebih populer sih itungannya daripada hotel kami.

 The D-Day

            Dengan badan remek, sangat tidak heran kami bangun kesiangan. Haduh. Acara mulai jam 9 dan 8.30 kami baru berangkat, padahal kami juga belum tahu harus bagaimana kesana. Mas resepsionisnya bilang kami harus naik LRT 4 stasiun ke arah Kelana Jaya terus jalan kaki atau naik taxi. Tapi bahkan kami belum pernah naik LRT sebelumnya. Haha, nggak gaul ya. Lha, habis kemarin-kemarin kesini on tour, jadinya tidak merasakan public transport. Cuma harus saya akui sistem transport disini sudah oke, nggak kalah sama di Singapore. Phase orang-orangnya juga sudah nggak kalah sama negeri tetangganya itu, sudah banyak warga negara asingnya juga. Cuma mungkin yang kadang nggak oke menurut saya adalah masyarakatnya sendiri yang kurang siap dengan segala kemajuan ini. Sudah ada pencetan rambu untuk penyebrang jalan, masih merah aja pada nyebrang. hadeh. Sampe polisi pun harus bertindak.

Tapi ya sudahlah. Begitu sampai di stasiun Universiti, kami naik bis yang katanya sampai ke UM. Inilah kesalahan kami karena bis tidak ada yang masuk ke UM. We’d better take taxi, itu pun kita harus tahu lokasi tepatnya dimana karena universiti itu sangat luas. Kami sempat nyasar dan harus take taxi dua kali baru bisa nyampai ke Fakultas Sastra dan Social Science. Wiseman says: you should know where to go in KL if you dont want to be broke by taxi fare. Yup, I’ll remember that.

Overall acara yang saya ikuti hari itu oke, lumayan melupakan ketidakenakan kami di pagi hari. Saya dapat banyak ilmu dari berbagai presenter dari berbagai background. Cuma jelas saya tidak akan membahas panjang lebar tentang substansi konferensi tersebut disini. Haha, you wouldn’t bother what we’re discussing about Southeast Asia.

Yang jelas kemudian malam itu karena kami sangat capek seharian berpikir, kami meninggalkan acara cultural night dan berjalan-jalan di KLCC dan Central Market. Demi Tuhan, bukan saya yang mengajak berjalan-jalan ke tempat itu, hanya nemeni temen saja.  Sama ikut belanja sih. haha. Malam itu kami end up makan makanan thai di warung ibunya yang aslinya dari Padang terus tepar di hotel.

The Next Day

            Esoknya kami sudah mulai hafal jalan kesana. Acara presentasi saya juga berjalan lancar. Saya paling suka dengan presentasi dari seorang profesor sejarah tentang early regionalism di Asia Tenggara dari perspektif maritim instead of current trend of terrestrial regionalism. Menurut saya sangat insightful. Singkatnya tanpa perlu dijelaskan, acara ini sangat penting sebagai pengalaman pertama saya presentasi di tingkat internasional, menjalin network dengan researchers sebidang dari berbagai negara dan yang jelas publikasi pertama saya. Haha.

            Sampai hotel jam 10 malam, kami benar- benar menghabiskan waktu satu jam berikutnya untuk packing karena tiga jam lagi kami harus sudah bangun dan berangkat ke Bandara. For your information, setelah berkonsultasi dengan berbabagai pihak, kami akhirnya memutuskan untuk naik bis paling awal ke bandara, either aerobus ataupun skybus dari Central ke LCCT. Mas resepsionisnya yang menemani kami ke Central karena bagaimanapun itu masih malam. Kami berpikir Central masih akan sangat sepi dan kami mungkin satu-satunya penumpang yang akan menuju bandara. Ternyata kami terlalu ge-er. Meskipun pagi buta, terminal sudah cukup ramai dan bis pun sudah sesak dengan penumpang. Haha. Dengan bis ini lah kami akhirnya menuju ke bandara dan kembali ke penelitian lapangan kami.

            Goodbye KL, wish to see again next time =)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 10 other followers

%d bloggers like this: