On Travel

Travel to Country Side: Magelang and Ambarawa

Fuiiih, saya baru saja sampai di kos dari perjalanan panjang weekend saya. Berhubung tampaknya sahabat saya sedang belajar untuk ujiannya besok, yuk kita manfaatkan sisa tenaga saya untuk bercerita tentang pengalaman-pengalaman seru yang saya dapatkan sepanjang akhir minggu ini. Haha, tentu saja banyak sekali yang pingin saya ceritakan karena weekend kali ini, traveling is back!!!

Instead of merancang single backpacking dengan biaya sendiri, kali ini saya mendapatkan rejeki untuk jalan-jalan bersama rekan-rekan kantor beserta keluarganya ke Magelang dan Ambarawa. Eits, jangan underestimate dulu. Walopun bisa dibilang deket dan ke daerah kekuasaan sendiri, perjalanan dengan orang berbeda di waktu yang berbeda tentu memiliki cerita yang berbeda pula. Lagipula ini perjalanan menyenangkan sekali: sudah gratis, fasilitas unggul, dapat uang saku pula. Siapa sih yang nggak mau???haha

Saturday Night di Hotel Puri Asri

Mungkin ini salah satu contoh konkritnya. Saya tentu tidak akan memilih hotel ini jika saya backpacking. Tapi karena ini tour bersama rekan kantor, I think Puri Asri is nice choice.

Hotel ini termasuk salah satu yang terbaik di Magelang, memiliki view yang bagus dengan latar belakang Sungai Progo, berada dalam satu arena dengan taman bermain Kyai Langgeng, dan fasilitas yang oke (bahkan lebih ok daripada hotel yang saya tempati di Ceko menurut saya). Cuma satu sih yang saya kurang suka dari sini: masakannya kurang mengena.

Tapi baiklah, intinya sisa sabtu sore kemarin kami habiskan di hotel ini. Setelah bersantai dan dinner; kami mengadakan suatu game yang full doorprise di bawah agenda yang di rundown tertulis berjudul ‘acara syawalan’. Ahaha, gini nih kalo bekerja dengan orang-orang sibuk; rencana syawalan aja sampai diundur ke bulan berikutnya. Bujubusettt. Acara ini seru karena memberikan tantangan pada para peserta untuk bisa mendapatkan hadiah. Ada yang kuis piramida, joged, nyanyi bintang kecil, baca syair yang lupa ditengah jalan padahal sudah sangat menghayati dan lain-lain. Seru lah melihat orang-orang tua ini beraksi, apalagi hadiahnya,,lebih seru lagi. Sayaaaaang banget, saya tidak mendapat jatah korban tantangan games ini. Padahal enak tuh kalo dapet panci, saya sedang memerlukannya untuk memasak sayuran di kos. Saya hanya kebagian kaos dari sponsor karena berhasil membantu mbak Ari menjawab semua pertanyaan dalam kuis piramida. Haha kasihannya. Udah gitu mau karaokean saja ruangnya penuh. Jadi deh sisa malam itu saya meringkuk menonton ‘final destination’ dan ‘harold and khumar’ bersama teman satu kamar. I need to say that i’m highly tolerable in this case karena saya merelakan diri saya tidak menonton chelsea agar tercipta win-win solution dengan teman saya terkait perbedaan minat acara tv (walopun saya tidak yakin sih hal ini akan terjadi kalau yang bertanding arsenal. Haha)

But certainly menonton film bukan akhir dari segalanya karena justru keesokan harinya petualangan seru baru dimulai=)

Real Challenge in Gedong Songo

Tujuan pertama kami pagi hari tadi adalah kompleks sembilan candi di daerah Bandungan, Semarang yang terkenal dengan sebutan Gedong Songo (bahasa jawa untuk ‘sembilan bangunan’). Untuk mencapai tempat yang jauhnya satu jam dari magelang ini saja kami sudah mendapatkan tantangan tersendiri dengan adanya mobil mogok di tengah jalan yang sukses menghambat jalan kami ke kompleks candi tersebut. Belum lagi ban mobil yang masuk ke cekungan tanah dan membuat banyak orang terpaksa harus berkontribusi tenaga untuk mendorongnya keluar. Ternyata ketika kami sampai di tujuan pun masih ada saja tantangannya.

Saya baru tahu kalau kompleks candi ini terdiri dari candi-candi yang tersebar cukup jauh dari satu tempat ke tempat lainnya seperti halnya Angkor Wat. Nah mendingnya Angkor Wat, meskipun jarak satu candi dan candi lain sangat jauh, kondisi tanahnya datar. Lha ini, naik turun bukit e. Saya sih bisa nahan karena memang sudah terbiasa jalan kaki, nah teman-teman lain?akhirnya munculah suatu ide yang membuat saya bergidik. Menyewa kuda!

Bujubuset. Saya memiliki alasan-alasan yang perfect mengapa saya merasa tidak harus berkuda. Satu, saya baru satu kali naik kuda, itupun jarak pendek, di sirkuit menara kuala lumpur yang sangat datar dan nyaman. Sekalipun dulu mungkin saya pernah naik, itu pasti juga dalam kondisi yang sama. Dan dari sedikit memori itu, saya masih ingat saya kurang nyaman menunggang kuda. Jadi dengan melihat rute candi yang naik turun mengelilingi bukit dengan jalan yang sempit dan terjal, saya punya alasan bagus untuk menolak menggunakan kuda. Kedua, saya mau diubah seperti apa, saya orangnya takut ketinggian (saya berpikir naik kuda akan mempertinggi jarak saya dengan dasar bukit yang saya daki) dan saya sudah trauma naik motor (implikasinya sekarang adalah saya merasa saya payah dengan mesin atau dengan mengendarai sesuatu, termasuk dengan kuda. saya pasti kesusahan). Lengkap bukan? Tapi entahlah, somehow ada pikiran lain saya yang memberontak. Bela sekarang bukan bela dulu yang penakut, saya senang mencoba hal baru dan saya mau keluar dari zona nyaman. Saya membayangkan betapa menyenangkannya ketika saya akhirnya bisa mengatakan ‘yey, hari ini saya berhasil menakhlukkan satu tantangan baru yaitu menunggangi kuda naik turun gunung!’. Menyenangkan sekali. Lagian, masa suka traveling kayak gini aja takut. Jadi deh, pikiran itu menundukkan otak saya sehingga saya memutuskan untuk naik kuda.

Begh, seperempat pertama perjalan; jujur saya masih panas dingin aja, mau nyerah malah. Udah berasa mau terpental-pental, belum lagi kalo lagi menanjak tajam atau menurun curam. Tapi entahlah, dorongan semangat dan keberanian saya benar-benar membantu. Sisa perjalanan kemudian saya sudah mendapat soul gerakan si kuda, dan cukup bisa memenej ketika jalan menanjak atau menurun. Saya justru mendapatkan asyiknya naik kuda dan pingin mencoba lagi kapan-kapan walopun tentu saja masih harus dengan penjaganya. Haduh, thank you sekar* for being such a nice friend for me..ahaha (saya kok merasa sangat lebai dan berapi-api ya menceritakan pengalaman pertama saya ini=))

Stabilizing Emotion in Banaran Coffee

Setelah emosi yang naik turun antara takut dan excited dengan kuda, kami melajutkan perjalanan ke Banaran Coffee yang menurut saya cukup stabilizing.

Banaran Coffee merupakan salah satu trade mark kopi lokal yang sangat terkenal. Letaknya sekitar 30 menit perjalanan dari Gedong Songo. Tempat ini selalu ramai pengunjung yang tidak hanya sekadar berkopi dan berwisata kuliner tetapi juga berlibur bersama keluarga di taman bermain yang disediakan Banaran Coffee ini. Well, karena saya tidak suka kopi, saya tidak memesan menu andalan restauran ini yaitu kopi tubruk. Saya mencoba kopi special cream dan menurut saya juga enak. I brought some boxes of coffee for my family=)

Take Train in the Old Station

Ini pengalaman yang tidak boleh dilewatkan: naik kereta uap dari museum kereta api ambarawa ke stasiun Bedono. Hehe, gimana nggak, kereta ini hanya terdiri dari dua gerbong dan kita harus menyewa satu gerbong penuh berisi 40 orang jika kita mau naik. Jumlah sih mungkin nggak masalah, tapi harganya itu: 2,5 juta per gerbong! Jadi sekarang mumpung dapet gratis, dipuas-puasin tuh naiknya. Ahaha.

Kereta uap yang kami kendarai merupakan dua seri gerbong yang termasuk paling tua di Indonesia. Dibangun pada era kolonial Belanda, kereta ini dimaksudkan untuk mengangkut penumpang dari Krapyak ke Jogjakarta. Kereta ini unik karena harus menggunakan bahan bakar kayu jati sebagai penggerak. Satu kali perjalanan rata-rata dibutuhkan 3,5kubik kayu dengan rincian 1,5 dibakar di awal perjalanan dan 2kubik sebagai cadangan. Awalnya saya agak ngeri juga membayangkan jumlah kayu jati yang dibutuhkan, itu berarti kan penggundulan hutan besar-besaran! Tapi menurut pak Aris sih ini sudah termasuk plantation tree dan dipotong periodik, jadi tidak membahayakan kondisi alam. Syukurlah. Hehe. Mungkin hal lain yang menarik dari kereta ini yang bisa disebutkan adalah bentuk rodanya yang bergerigi di sisi tengah sehingga di tengah rel pun terdapat satu rel lagi berbentuk gerigi dan posisi lebih tinggi dibanding yang lain. Tapi penjelasan soal ini saya tidak tahu karena bukannya mendengarkan penjelasan sang guide, saya malah sibuk foto-foto bersama yang lain. Haha. Maafkan kami.

Tapi pada dasarnya kami sangat menikmati perjalanan dengan kereta uap itu dan benar-benar merasa seperti kembali ke masa lalu. Apalagi waktu itu hujan deras dan kita terkurung dalam kereta kayu. Haduuh, saya malah langsung kepikiran film the pianist saja yang menggunakan kereta seperti ini untuk mengangkut kaum yahudi ke Eropa Timur. Oh ya, bagi yang berencana mencoba kereta ini, sangat mungkin di tengah jalan, Anda akan melihat segerombolan anak kecil dari desa sekitar yang mencoba mengejar dan naik kereta tersebut. Terkadang anak-anak ini juga meminta uang. Saran sang guide sih jangan dikasih. Kayak yang ditulis gede-gede di jalan-jalan Jogja tuh: peduli bukan berarti memberi. It’s just not a proper place. Kadang kasihan juga sih melihat mereka hujan-hujan berusaha naik kereta; cuma kalau liat beberapa dari mereka juga memasang kelapa di tengah rel; agak kesel juga.

Fuih, nggak kerasa dua jam perjalanan selesai dan kami sudah sampai kembali ke stasiun Wilhem I. Weits, apaan tuh kerumunan di peron? Oh God, no, ini hal yang paling saya benci: paparazi yang diam-diam mengambil foto kita dan kemudian memajangnya agar kita membeli dengan harga yang mahal. Saya masih inget banget saya terpaksa membeli semua foto pentas tari bali saya yang diambil paparazi karena itu “limited edition”.walaupun ada faktor narsis juga sih, pingin punya foto-foto kita sendiri. Hehe. Nah kali ini saya berniat untuk tidak termakan godaan membeli, cuma tiba-tiba ada mas-mas yang menunjuk foto saya dan nyeplos sesuatu yang membuat saya merasa harus membeli. Toh saya lihat-lihat juga foto saya disitu lumayan. Jadi deh 15 ribu melayang T_T. Udah gitu diledekin Pak Aris fotonya mending yang dia ambil, ada banyak pula. Huaaaaaaaaaa, kena lagi deh saya.

Sudahlah, mari kita pulang saja.

Closing Dinner in Ayam Goreng Bu Tatik

Tujuan terakhir kita sebelum kembali ke Jogja adalah makan malam di Ayam Goreng Bu Tatik, di sebelah barat Armada Magelang. Berhubung saya sudah kesini, jadi biasa saja sih. Ayam goreng dan udang gorengnya enak, cuma udang berkuahnya kurang sreg di lidah saya. At least perjalanan ini membuat saya sadar ternyata di Magelang cukup banyak juga tujuan kuliner yang worth it dan disukai banyak wisatawan.

Hoam, sudah ngantuk dan capek. Jalan-jalan kali ini sudah selesai dan kami harus kembali ke Jogja sebelum paginya harus kembali bekerja. Woooooooooooowww, saya suka sekali perjalanan ini =)

This is the picture (some) of us together:

 

*sekar: nama kuda yang saya tunggangi

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 10 other followers

%d bloggers like this: