On Travel

Museum Batik, Yogyakarta

Sebagai salah satu bentuk metode tutorial yang saya berikan kepada mahasiswa internasional yang belajar di Pusa Studi Asia Tenggara, saya mengajak Anja, anak tutor saya berkujung ke Museum Batik. Sejujurnya, ini baru kali pertama saya datang ke museum yang terletak di Jalan Dr. Soetomo 37A, Bachiro, Yogyakarta tersebut. Hehe. Selama ini saya hanya penasaran dengan museum ini karena saya lewati setiap minggu pagi saya latihan menari. Mumpung ada teman yang diajak kesana juga, jadilah jumat sore kemarin kami kesana.

Berbeda dengan museum batik Ulen Setalu yang cukup besar dan tergolong baru, museum batik ini cukup kecil, sederhana dan terhitung tua, berdiri sekitar tahun 1979. Pengunjungnya pun tergolong jarang. Mungkin karena dikelola oleh swasta, yaitu pasangan suami istri setengah baya yang hendak melestarikan batik milik keluarganya;operasional museum ini tidak berkelanjutan seperti halnya museum besar lain. Pada waktu kami kesana pun, ruangan terasa amat panas meskipun telah ada beberapa kipas angin yang menyala (walaupun sepertinya siang itu tidak ada tempat di Jogja yang tidak panas kali ya. Hehe). Tapi terlepas dari semua itu, museum ini menawarkan banyak hal menarik yang akan membuat kita terkagum-kagum. Misalnya saja, begitu masuk, kita akan melihat satu almari berisi batik yang sangat tua dengan tahun pembuatan 1780-1800an. Wow, itu kan jaman bahkan ketika Portugis belum menapakkan kaki disini atau paling tidak awal periode mereka tiba disini lah. Batik-batik tersebut adalah batik pesisir seperti dari Pekalongan yang diperdagangkan dengan pedagang China dan beberapa pedagang Eropa. Tidak heran jika Batik ini berwarna cerah dan bermotif bunga, cocok dengan warna kulit mereka. Selain batik-batik tersebut, masih terdapat batik-batik lain dari berbagai zaman hingga batik zaman sekarang. Ada lho batik zaman Ganefo. Hehe. Terdapat juga batik Jogjakarta yang warnanya didominasi oleh warna cokelat, hitam dan putih. Selain batik tulis, terdapat juga batik cap yang saat ini banyak beredar. Menurut sang pemilik yang saya lupa namanya, batik cap dibedakan dari batik tulis dari sisi motifnya dimana batik cap biasanya bermotif sama atau monoton dalam satu kain karena menggunakan cap sementara batik tulis lebih ekspresif dan bebas karena akan dijumpai gambar-gambar yang berbeda dalam satu kain. Oleh karena itu lah batik tulis lebih disukai sementara banyak pembeli aka menilai batik cap sebagai terlalu rapi. Meskipun demikian, proses penulisan yang dikerjakan dalam hitungan bulan membuat harga batik tulis jauh lebih mahal daripada batik cap. Hmm, pengetahuan baru. Waktu saya tanyakan bagaimana caranya ibu itu mengumpulkan semua batik-batik ini, beliau mengungkapkan bahwa batik-batik ini adalah warisan dari generasi-generasi keluarganya terdahulu. Cara merawatnya? Hmm, sangat ribet karena setiap sebulan sekali batik batik tersebut harus masuk ke dalam ruang perawatan dan itu membutuhkan biaya sangat mahal. Dari rangkaian pameran batik ini, saya paling menyukai bagian alat cap batik dari jaman baheulah sampai saat ini. Benar-benar hebat para pembuat alat ini, telaten.

For your information, paket kunjungan museum batik ini juga dilengkapi dengan museum sulaman. Usut punya usut ibu pemilik museum ini juga merupakan ahli sulam. Dalam satu ruangan tertentu, pengunjung dapat melihat deretan gambar Yesus dan tokoh-tokoh penting RI yang mana gambar yang terlihat nyata tersebut bukan lah gambar foto tetapi hasil dari sulaman sang ibu! Oh wow. Menariknya lagi terdapat satu gambar crucification Yesus yang cukup besar dibuat tahun 1996 oleh sang ibu dan mendapatkan rekor MURI. Ya bagaimana tidak, gambar sulaman itu sangat besar, detail dan membutuhkan 3,5 tahun untuk membuatnya. By the time she finnished it, Jepang sudah selesai menjajah tuh. Ahaha.
Jika pengunjung tertarik, Anda dapat melengkapi kunjungan Anda ini dengan ikut kursus pembuatan batik dengan biaya Rp 30.000,- per jam nya dan membeli pelengkapan membatik di etalase depan. Akhirnya selesai sudah kunjungan kami. Bagi Anda yang berminat, museum ini beroperasi setiap senin-sabtu 9.00- 15.00 dengan biaya masuk Rp 15.000,-.

Discussion

4 thoughts on “Museum Batik, Yogyakarta

  1. Salam kenal mbak, makasih untuk artikelnya

    Posted by Grosir Baju Batik | August 18, 2010, 2:44 pm
  2. Ah, jadi pengen jalan-jalan lagi sy, mba..šŸ™‚

    Posted by Yula | September 9, 2010, 2:47 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 10 other followers

%d bloggers like this: