Other Scratches, Special Events

Community Service Series: Clementi Hobby Club

Ketika pertama kali mendaftar volunteering ini, saya sama sekali tidak membayangkan kegiatannya akan menarik. Soalnya teman saya sudah bilang volunteering bersama elderly itu tidak asyik. Tapi ya sudah, karena saya pingin menyelesaikan jam community service bulan ini, dan kebetulan kegiatan ini pas saya kosong dan tempatnya dekat ya kenapa nggak kan?

Eh, tidak tahunya saya justru sangat menikmati kegiatan ini dan berencana balik lagi minggu depan. Hehe. it was totally a lovely morning. Here is the story.

Rush Hour

Semalem saya ketiduran sampai pagi. Bukannya langsung beres-beres dan bergegas sarapan, saya malah masih menyempatkan buka email dst. Dan seperti biasa, ujung-ujungnya saya terlambat. Belum lagi saya sadar saya belum memprint form volunteer. haduh, harus mampir ke perpus dulu jadinya. Sumpah saya pagi ini sampai pada kesimpulan bahwa Singapura tidak didesigned untuk orang yang suka terlambat, negara ini pas untuk orang yang ontime. Ya bayangkan saja, kalo Anda terlambat, Anda harus menunggu bis yang sudah diset waktunya, yang kalo berkendara tidak boleh ngebut, sudah gitu kampus saya sendiri memiliki banyak tangga yang mengharuskan saya naik 4 lantai ke perpus, turun dari AS1 ke AS 3, turun lagi ke terminal, naik turun lagi di jembatan penyebrangan..haduh. itu belum termasuk ngantri print. Ok deh, saya menyerah menjadi orang terlambatan seperti ini. saya akan menuruti teman saya untuk menambah injury time untuk persiapan 30 ready sebelum kegiatan.

Getting Lost

Ok, akhirnya saya sampai di bus stop Kent Ridge terminal dalam keadaan haus dan berkeringat banyak. Karena pertama kalinya kesana, saya memperhatikan kiri jalan. Menurut Gothere, tempat tersebut 14 bustop dari PGP. Dan kalau tidak salah ingat itu adalah bus stop pertama ketika kita belok dari Clementi Road menuju MRT. Saya yakin sekali itu sampe saya melihat tulisan Clementi Ave 1! halo, ini kan belum sampe belokan! akhirnya saya membunyikan bel stop dadakan. haduh, maaf ya pak Supir. Begitu saya turun, saya baru sadar bahwa saya turun di tempat yang salah. Maksudnya itu memang Clementi Avenue 1, tapi jalan itu akan tembus ke jalan yang saya maksud sebelumnya dimana bangunan yang saya tuju berada. Huah, lemes deh, udah telat gini.

Akhirnya saya tanya kepada orang yang sedang joging. Ternyata dugaan saya tepat. Cuma yang bikin saya terharu adalah ketika bapak itu menawarkan untuk mengantar saya melalui jalan tembus sehingga saya tidak terlambat terlalu lama. Huuu, baiknya. Akhirnya sepanjang perjalanan kami ngobrol banyak. Ada satu pertanyaannya yang membuat saya gubrak. “Are you European???” Wadoh, sepertinya orang Singapura suka asal seperti itu. Saya tahu itu bukan karena penampilan saya karena saya jelas pendek, sawo matang dan berkerudung. Biasanya orang mengatakan seperti itu karena logat saya. Well, agak aneh sih, karena logat saya juga nggak yang fasih gitu, hancur malah. Cuma sering banget orang salah ngerti. Bulan lalu ketika teman saya menginap di hostel tempat saya pernah menginap, pemiliknya berkata “oh iya, kemaren juga ada cewek Indonesia berkerudung yang logatnya Amerika” !!! beberapa teman Singaporean saya juga bertanya “where did you study?” ” Gadjah Mada University” “Oh, i thought u studied in Europe or sth”..hmmpfh, dalam hatiku, i wish.
Ok akhirnya saya sampai ke Blk 409, Clementi Avenue 1. Terimakasih bapak=)

Clementi Hobby Club

Clementi Hobby Club adalah sebuah komunitas yang digunakan sebagai wadah interaksi sosial sesama elderly yang dikelola oleh High Point Community Service Association. Tempatnya di ruang tidak terpakai lantai 1 blok 409.

Saya agak kaget juga waktu datang para kakek nenek sudah pada duduk berkeliling di kursi. Seorang volunteer meminta saya masuk dan lansung bergabung. Waduh, disuruh ngapain nih. Agak kikuk tapi feelingnya open aja terhadap pengalaman apapun yang akan terjadi disini. Saya juga heran saya sama sekali tidak jaim, saya merasa justru kegiatan ini membebaskan diri saya. Sumpah, saya mengikuti rangkaian ini dengan sepenuh hati. ahaha. Pertama, kami semua strectching dengan dua bola ditangan, terus kami bermain lempar bola, kami menari ost kartun anak-anak, terus menari afrika. Haha, jujur gerakannya aneh banget, teman-teman saya pasti tidak akan mau melakukannya, tapi somehow i just did it. Saking asyiknya, saya baru sadar ada kakek-kakek ngeliatin dan mengacungkan jempol pada saya. Wadoh, maap bapak saya keasyikan. Huff, capek menari (walopun saya mau lagi), akhirnya kami makan siang bersama. Disana makanan China dan Malay dipisah. Tapi jangan negthink dulu. Ini lebih kepada bahwa yang Malay terjamin halal dan yang China tidak. Seru banget kami ngobrolnya. Azizah adalah lansia Malay tinggal di blok 405. Orangnya ramah. Kami ngobrol banyak. Seorang volunteer mendekati saya dan berkata “kamu beruntung bisa bicara malay”. Hmm, saya sering mendapat pertanyaan seperti itu. “ehm, sebenernya saya saya berbicara dalam bahasa Indonesia dan dia berbicara dalam bahasa malay, tapi kami bisa saling mengerti satu sama lain”. hehe. Ada juga Yeni, dia dari Cilacap dan bekerja pada majikannya orang Malay yang kebetulan bergabung di klub ini. Lucunya sepanjang kegiatan yang beraktifitas malah Yeninya, bukan majikannya. lalu ada juga seorang western yang sudah 3 tahun tinggal disini dan bergabung dalam klub ini. Banyak sekali motivasi orang dari beda latar belakang yang ikut berpartisipasi. Hal yang amat sangat jarang terjadi di Indonesia. Saya lupa namanya, tapi ada seorang ibu yang sudah dua kali ini bergabung di SG Cares – lembaga yang mengelola dan memberi informasi tentang NGO-NGO di Singapore beserta jadwal kegiatannya. Motivasinya simple aja, karena dia tertarik volunteering bersama elderly. Ini lah salah satu yang saya suka dari Singapura. Semua kegiatan yang ada terkoordinasi, terdata dan terakses dengan baik. Anda mau mencari data NGO, data komunitas seni, dan lain-lain bisa Anda search di internet, lengkap. jadi karena tau informasinya, mereka jadi bisa involve ini itu. Istilahnya Civic Concepts International “when they are informed and aspired, they will involve, and once they involve, they will make positive changes.” wuss, ini kok jadi bleber kemana-mana ya. Yah, intinya semua bakat terfasilitasi lah disini.

Ok, at the end of the session, kami semua relaks. Say bergabung dengan beberapa elderl bermain bingo. Ada ibu-ibu yang menang terus. menyebalkan. Hehe. habis, saya nggak enak juga sih kalo harus agresif berebut kartu bingo. Yah, yang penting mereka senang saja.

Mungkin kegiatan ini terlihat simple. Tapi karena kegiatan ini, beberap dari mereka kemudian menjadi semangat untuk bisa berdiri, mereka menjadi giat olah raga supaya bisa bergabung menari dengan kami. Bahkan ada seorang nenek-nenek yang hanya sekali keluar rumah dalam satu minggu, yaitu untuk menghadiri acara ini.

Mungkin permasalahan elderly ini bukan permasalahan krusial di Indonesia. Kita lebih terfokus pada permasalahan kemiskinan, korupsi, kriminal dan lain-lain. Tapi bagi Singapura yang sudah aman, kesejahteraan lumayan tinggi, permasalahannya ya seperti ini – Elderly yang kesepian dan lain-lain.

Afterall, this is a very lovely morning for me. so much lesson and hapiness i fond here =)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 10 other followers

%d bloggers like this: