Special Events

NUS Muslim Society (part 2)

Seperti yang telah saya ungkapkan pada bagian sebelumnya, akan ada banyak hal menarik tentang society ini sehingga saya melabeli post terdahulu dengan part 1. Dan part 2 post saya akan bercerita tentang pengalaman menarik saya hari ini.

Jika pada minggu ke 5 saya akhirnya menemukan mushola, pada minggu ke 7 ini saya akhirnya menemukan komunitas saya. Haha, terlihat bahagia bukan?abosulutely. Cuma ada sensasi menebak-nebak juga ketika hendak mengikuti kegiatan mereka pertama kali.

Cerita punya cerita sepanjang minggu ini di kampus kami diadakan event Islamic Awareness Week. Ini adalah serangkaian kegiatan untuk mengenalkan agama kita pada para mahasiswa NUS. Agama-agama lain juga mendapatkan kesempatan sama di satu bulan ini. IAW sendiri memiliki banyak kegiatan, mulai dari poster exhibition, diskusi panel, puasa, dan kunjungan ke Kuala Lumpur. Tidak semua kegiatan ini saya ikuti. Saya hanya mengikuti diskusi panel tentang Muslim-Yahudi dan kunjungan ke Kuala Lumpur karena dua kegiatan ini lah yang paling menarik perhatian saya. Terlebih tujuan utama saya adalah being among my community.

Jadi mari kita bercerita tentang Diskusi Panel malam hari ini. Diskusi panel berjudul Muslim and Jewish: Peaceful Coexistence is Possible? ini merupakan kegiatan pertama saya di komunitas ini. Dan itu membuat saya deg-degan. Hehe. Bukan apa-apa. Tapi seperti yang telah saya ceritakan di bagian pertama, saya tidak pernah bergabung dengan komunitas seperti ini sebelumnya. Dan pemahaman saya mengenai komunitas agama di kampus di Indonesia, terutama kampus saya, adalah bahwa mereka yang bergabung adalah yang “lebih” dalam hal agama, terutama jika dilihat secara kasat mata melalui cara mereka berpakaian atau kegiatan mereka di kampus. Makanya ketika saya hendak bergabung dalam acara komunitas Islam di NUS, saya menebak-nebak juga apakah mereka sama dengan yang saya pikirkan. itu yang membuat saya sedikit deg-degan, apalagi saya tidak mengenal siapapun disini.

Sudah sering tersasar di kegiatan yang bukan-saya, saya akhirnya sampai di venue diskusi. Dan seperti biasa, saya menemukan banyak hal baru disini. Pertama adalah bahwa komunitas ini berbeda dengan yang ada di kampus saya. Yang paling signifikan, dan yang membuat saya sedikit aneh, adalah ketika melihat muslim ini berasal dari berbagai ras dan bangsa. Jujur, kalau ketemu di jalan saya tidak akan bisa mengetahui mereka muslim atau bukan. Dan disini, i was like “oh, ternyata mereka Islam ya?”, “ternyata banyak juga ya muslim disini”. Haha. Lebih berbeda lagi adalah ketika saya tahu bahwa ternyata banyak anggota panitia di komunitas ini yang tidak berkerudung. Mungkin hal ini normal disini, cuma agak aneh juga jika mengingat pengalaman saya sejauh ini. Pertanyaan-pertanyaan seperti “kok bisa ya?”, “kenapa mereka tidak memakai ya?” bermnculan secara naif di benak saya. Tapi itu bukan masalah. Kedua yang menarik saya adala banyaknya non-Muslim yang tertarik mengikuti acara ini. Memang sih tema diskusinya sangat menarik, cuma to some extent, ini jelas berbeda dengan yang saya lihat selama ini di hometown saya dimana jarang terdapat acara agama tertentu di kampus yang dihadiri banyak orang tidak seagama dan berdiskusi secara terbuka tentang isu yang didiskusikan. terlebih peserta tersebut memakai atribut yang diluar kriteria. Hehe. Hal menarik ketiga adalah mengenai isi ceramah tentunya. Jujur, pengetahuan saya tentang agama saya sangat minim. Dan diskusi ini sangat insightful.

Secara singkat pembicara membahas tentang sejarah hubungan Muslim dan Yahudi hingga saat ini dan apakah peaceful coexistence diantara keduanya possible. Periodisasi dibagi menjadi tiga bagian. pertama adalah ketika masa konstitusi Madinah. Pada masa ini Muslim dapat hidup berdampingan dengan Yahudi. Konstitusi tersebut cukup toleran dan akomodatif terhadap kepentingan Yahudi. Hanya karena permasalahan ketika Perang lah yang membuat keduanya bersitegang. Periode berikutnya adalah pada masa ottoman empire. Ketika itu orang Yahudi dikeluarkan dari berbagai negara Eropa terutama semenanjung Iberia. Ottoman Empire menjadi penolong dengan menerima mereka di wilayahnya. Di bawah kekaisaran ini, yang terjadi adalah inequal tolerance. jadi meskipun terdapat inequal relationship, kekaisaran Turki sangat toleran terhadap keperluan Yahudi. Mereka bebas beribadah, bekerja dll. Bahkan komunitas ini dalam waktu singkapt menguasai perekonomian. Hal ini dikarenakan mereka mengerti bahasa bangsa barat sehingga mudah menjalin hubungan dengan mereka. Kelebihan mereka ini juga membuat mereka dipercaya oleh Kaisar Ottoman untuk menjadi mata-mata di negara-negara Eropa. Hubungan ini cukup harmonis sehingga tanpa paksaan, banyak juga Yahudi yang concert to Muslim dan membuat kelompok sendiri. Periode terakhir adalah saat ini dimana hubungan keduanya memburuk dengan satu contoh pasti konflik di Timur Tengah. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman kedua pihak pada generasi ini satu sama lain. Meskipun demikian, dengan melihat record sejarah keduanya, peaceful coexistence sangat mungkin dicapai.

Haha, saya terlalu simplify merangkum ceramah tersebut. Tapi yang jelas penjelasan tentang tema ini sangat menarik. Last but not least, yang tidak kalah menarik saya adalah ketika di awal mereka menampilkan video musik tentang pelajar dan Islam. Menarik sekali melihat betapa komunitas ini terlihat giat mengenalkan Islam kepada dunia luar terutama non muslim dan betapa hal kecil yang kalo di hometown saya terlihat cheesy disini menjadi hal yang seru. Hmm, ternyata saya kurang mensyukuri hidup di negara mayoritas Muslim. Kini ketika hidup di negara yang multikultur dan Anda merupakan salah satu minoritasnya, Anda akan merasa perlu bersama komunitas Anda, merasa senang memiliki ikatan kuat dengan komunitas tersebut, lebih merasa ingin mendalami Agama dan lain sebagainya. Satu hal yang berbeda adalah ketika saya menjadi mayoritas, saya tidak pernah memikirkan apa yang orang pikir tentang saya, tapi disini, kadang saya memikirkan hal ini. Dengan sensitifitas yang ada sekarang, being attributely different sometimes membuat kita tidak mudah. Hehe. But that’s nice. I mean, new experience for me=)

Wait for the next!

Discussion

2 thoughts on “NUS Muslim Society (part 2)

  1. mm .. singkat jelas .. sip .. harusnya ada part 3 yg lebih detail .. 7 jam harusnya bisa jadi 10 part😀

    Posted by orenjus | February 24, 2010, 10:12 pm
  2. hehe, nggak mau detail mas kalo menyangkut hal seperti ini, belom banyak pengetahuan dan tingkat sensitifitasnya tinggi =)

    Posted by belarusia | February 25, 2010, 2:42 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 10 other followers

%d bloggers like this: