On Travel, Special Events

Malaysia Backpacking 2010: KL-Penang (Part3)

Mari kita selesaikan kisah backpacking saya di Malaysia. Mumpung cokelat panas saya masih mengepul panas =)

Cerita terakhir kita kemarin sampai pada saya terlelap tidur tanpa kabar dari Nisha. Pagi itu saya bangun pun, tidak ada kabar apapun darinya di handphone saya. Sedih banget. Ya sudah, ditunggu saja, siapa tahu semalem dia sudah tidur. Lagian toh, host fam saya mengajak kami berjalan-jalan. Ayo semangat!

Setelah jalan-jalan pagi berkeliling jalan Sungai Nipah dimana kami bisa melihat rumah-rumah tradisional Malay, kami kemudian siap-siap ke kota.
Hari ini untuk pertama kalinya kami pergi tanpa keluarga host fam saya, jadi kami pergi menggunakan taksi. Haduh, sebenernya saya nggak enak juga kalo harus pake taksi, soalnya 1 jam perjalanan muterin bukit pasti mahal banget. Justru jadi pengalaman baru kalau kita perginya naik bis. Tapi ya sudah lah, host fam sudah memutuskan. Beliau mengorbankan 30 ringgit. (does it seems wasting thinking I can go back to KL using that money?T_T).

Yah, whatever it took, akhirnya kami sampai ke tujuan pertama kami, terminal bis Sungai Nibong. Kami hendak membeli tiket pulang ke Singapore besok pagi agar saya bisa pergi ke pertunjukkan Tari India malamnya untuk kelengkapan tugas kuliah. Mulanya kami mendatangi consortium. Kami pikir pelayanannya lumayan dan harganya juga standar. Sayang sekali tiket pagi hari habis. Begitu juga dengan beberapa perusahaan lain. Akhirnya pilihan kami jatuhkan ke perusahaan local KKKL. Nggak jauh beda dengan consortium 110 ringgit sampe Johor. Huraiy, pulangnya naik SBS 1,5 sgd! Habis, mupeng juga waktu anak-anak bilang bisa naek SBS 170 langsung dari kampus ke Johor dengan harga 3 dolar.
Sudahlah, mari kita jalan-jalan ke kota.

George Town
Bisa dibilang George Town adalah wilayah di Penang yang beda. Tidak termasuk metro seperti Queensbay dan tidak termasuk pedalaman seperti balik Pulau. Kota ini memberi warna berbeda buat Penang. Berstatus sebagai kota heritage, George Town adalah pusat kota tua. Disini Anda bisa melihat toko-toko menjual souvenir dan makanan dengan bangunan yang amat tua, klasik gaya Malaysia. Menurut hostfam, sebenarnya kota ini tidak dimaksudkan begitu. Pemerintah kurang memperhatikan perkembangan pulau ini sehingga banyak bagian dari Penang yang masih tampak virgin dari pembangunan. Karena PBB melihatnya denga kacamata lain yaitu bahwa bangunan ini patut dilestarikan, akhirnya masuklah george town sebagai heritage. Disini, saya menyempatkan untuk berbelanja souvenir, kaos tepatnya. Lalu kami mencoba es kacang. Ice kacang dan ice cendol adalah dua es yang terkenal di Penang. Buat Anda yang berasal dari Indonesia, pasti Anda tidak akan kaget dengan minuman ini. Hehe. Sebenarnya di kota ini juga ada kwetiaw terkenal. Cuma tutup. Makanya kami mendatangi restoran India untuk mencoba nasi kandar. Dengan ayam gede porsi India, Anda hanya harus membayar 5 ringgit lho. Murah kan.
Nah, selesai makan dan jalan-jalan, kami menuju Komtar. Komtar atau Kompleks Tun Abdul Razak adalah kompleks terkenal di Penang. Tempat ini menjadi salah satu titik naik turunnya bis di Georgetown. Bahkan Anda bisa naik gratis lho untuk jarak dari mana ya ke Komtar (silakan cek di bis dekat Komtar kalau Anda kesana). Menara Komtar juga dapat Anda jadikan patokan jika Anda tersesat di Georgetown. Jika Anda berkeperluan menukar uang atau berbelanja barang ”universal”, Mall Komtar juga cukup akomodatif lah.
Di Komtar kami lagi-lagi mengambil taksi untuk mencapai tujuan kami selanjutnya. Sekadar informasi, di Penang terdapat taksi yang benar-benar taksi dan mobil pribadi yang dijadikan taksi. Sudah seharusnya Anda mengambil yang pertama tentunya, kecuali opsi yang kedua Anda yakin atau mengenal betul pengemudinya. Kali ini kami membayar 10 ringgit untuk sampai ke Sleeping Budha!

Burmese Temple

Lho, kok malah ke Burmese temple. Hehe, kami juga heran. Ternyata di tempat ini ada dua temple. Yang satu Burmese Temple yang satu Thailand Temple dimana Sleeping Budha berada. Tapi tidak ada salahnya kita masuk ke Burmese Temple terlebih dahulu. Hmm, temple ini besar sekali. Terdapat beberapa bagian didalamnya yang sebagian besar tidak saya mengerti. Bahkan saya selalu bertanya terlebih dahulu apakah saya boleh masuk atau tidak. Hehe, habis diantara kami bertiga, cuma saya yang tidak sembahyang.
Bagian pertama temple adalah lorong dimana kita bisa melihat lukisan berderet bercerita tentang perjalanan Budha. Diujung itu terdapat ruang sembahyang dengan patung Budha yang sangat besar. Terdapat beberapa biksu juga disana. Jujur saya tidak paham apa yang mereka lakukan, begitu juga simbol-simbol ini. Hostfam saya bercerita banyak sih, tapi sekarang saya sudah lupa. Hehe. Mungkin dari bagian ini yang menarik perhatian saya adalah adanya puluhan lilin berbentuk lotus besar yang dibiarkan menyala di depan ruang sembahyang. Menurut cerita, dahulu setiap tujuh langkah Budha akan muncul satu lotus.
Tapi Mari kita ke ruang sebelah. Disini patung Budha juga tidak kalah besar.

Lebih mengagetkan lagi, dibelakang patung besar tersebut terdapat sederetan patung Budha berdasarkan negara. Saya lho, foto dengan patung Budha dari Indonesia. Hehe.

Ayo, kita lihat bedanya dengan Thailand Temple.

Thailand Temple: Sleeping Budha

Nah, kalo ini bener-bener Sleeping Budha yang terkenal. Wuih, ternyata emang gede banget patungnya. Disini lebih heboh lagi, di dinding-dinding temple terdapat tulisan nama-nama donor temple tersebut. Disini bukan lagi versi Budha berdasar negara, tetapi patung Budha berdasar Tahun China dan berdasar hari! Lagi-lagi saya foto di depan Patung Budha Tahun Naga. Hehe.


Kunjungan ke Temple membuat saya sedikit mengerti tentang beberapa hal. Disitu terdapat patung Budha yang berbadan gemuk. Menurut teman saya, itu adalah gambaran Budha masa depan. Ada juga patung seseorang yang meskipun sudah tinggi tingkatannya tidak mau disebut Budha. Saya juga baru tahu ketika orang bersembahyang, mereka meletakkan lilin lotus, ada yang kecil, ada yang besar. Beberapa mencantumkan nama di secarik kertas dan diletakkan di lilin tersebut. Wah, sudahlah, sebenarnya ada banyak cerita, cuma takut salah saja, jadi jika Anda berminat, silakan datang kesini.

Pulang dari sini kami hendak menuju Komtar terlebih dahulu untuk kemudian mengambil bis ke Balik Pulau. Bis dari Temple ke Komtar tidak berbeda dengan bis di Indonesia, mesinnya tua dan tanpa AC. Pembayarannya pun manual. Nah, baru dari terminal bis di Komtar, kami naik Rapid Penang 7 ringit kayakna. Feeling back Singapore.

Huah, sampe rumah badan pegel-pegel semua. The good news adalah kami sudah bisa pindah ke rumah hostfam karena sodaranya sudah pada pulang. Wuih, senangnya. Malam itu berasanya males ngapa-ngapain, hostfam ngajakin nightwalk aja, kita males. Hehe. Apalagi saya sudah menemukan Breaking Down di rak buku keponakan hostfam. Ya, ampun, tu buku bikin saya senyam-senyum sendiri, mupeng baca cerita orang nikah sama orang ganteng!Haha. tapi itu tidak lama, saya baru ingat saya harus ke warnet lagi ngecek ada kabar tidak dari teman saya. Besok pagi saya sudah pulang dan sampai detik ini tidak ada kabar apapun di HP saya. Di message fb pun, ternyata tidak ada. Desperately, saya cuma bisa kirim pesan lagi bahwa besok pagi saya sudah pulang dan berharap bisa bertemu dia. But again, hingga besok pagi nya pun tidak ada kabar darinya. Uh, nyesel banget dateng kesini tapi tidak bertemu Nisha. Padahal kapan lagi saya punya kesempatan ini. Rush hour karena ban kempes membuat kami terburu-buru pagi itu dan saya membuat saya lupa dengan kesedihan saya. Nggak nyangka sudah harus balik lagi, tinggal menunggu bis kami yang ternyata sedikit terlambat. Saya hendak mampir ke toilet sebentar ketika saya mendengar seseorang memanggil nama saya.
Ya Tuhan, antara lemes, kaget, nggak nyangka, seneng dan semuanya jadi satu ketika saya melihat Nisha datang menghampiri saya. Huah, kami langsung pelukan disitu. Sumpah, nggak nyangka banget. Kami nggak tahan blur our everything bagaimana ternyata kami tidak bisa menghubungi satu sama lain dan bagaimana kami saling menyesal jika tidak bisa bertemu. Bahkan Nisha sudah cerita ke Manuel tentang semua ini. Dia juga mencoba menghubungi saya tapi somehow tidak bisa. Haduh, Tuhan, tiba-tiba saya tidak pingin pulang, pingin at least satu hari lagi saya disini jalan-jalan sama Nisha. Tapi bahkan bisnya sudah datang. Ya sudah, at least dia hendak pulang ke Johor april nanti dan berencana main ke Singapore. Again, saya pulang di bis masih senyum-senyum, jauh lebih bahagia daripada membaca cerita orang menikah dengan cowok ganteng..haha..so much for my happy ending.


Hmm, berhubung cokelat saya sudah habis dan sudah lewat jam dua belas malam, sampai disini saja cerita backpacking saya di Malaysia. Hope there will be another amazing backpack experience =)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 10 other followers

%d bloggers like this: