Other Scratches

Scratches of Living Abroad

Banyak dari kita tentunya pernah pergi ke luar negeri, baik itu untuk acara tertentu atau hanya untuk sekadar jalan-jalan. Dalam kunjungan singkat seperti itu tentu kita lebih banyak merasakan senangnya perjalanan kita, bagusnya tempat-tempat yang kita kunjungi, dan berbagai pengalaman mengesankan yang membuat kita berpikir tempat tersebut sangat menarik. Namun saya baru menyadari bahwa tinggal atau belajar di luar negeri sangat berbeda dengan dua kunjungan diatas.

Terlepas dari berbagai hal hebat yang menyenangkan, banyak hal-hal yang berbeda dengan negara asal yang akhirnya saya temui di Singapura dan membuat saya tidak nyaman. Mungkin karena ini masih permulaan juga.

Hal pertama yang agak aneh adalah banyaknya kartu yang harus saya bawa di dompet. Saya harus membawa kartu Ezlink untuk naik bis dan MRT, cash card untuk fotokopi dan print di kampus, Photocopy Card untuk print dan foto kopi di residence, Student Card untuk meminjam buku perpus, Student pass untuk membuka account dan berbagai keperluan berat lain, dan membership card untuk medapatkan diskon di toko buku kampus. Tidak punya semua kartu diatas hanya akan membuat hidup anda sengsara, terutama jika Anda mahasiswa asing yang tidak punya printer di rumah. Contoh jelasnya adalah apa yang saya alami tadi siang di kampus. Saya tadi membuat mas-mas di student service center kesal gara-gara saya tidak bisa mengoperasikan mesin printing dan tidak mempunyai cash card untuk biaya printer. Akhirnya masnya dengan kesal memakai cash cardnya untuk membayari saya=)

Uhm, sebenernya sistem ini sangat praktis dan sangat membantu jika kita sudah terbiasa.  Walopun menurut saya sistem ini juga mendorong konsumerisme juga karena dengan sistem kartu orang akan lebih mudah mengeluarkan uang tanpa berpikir panjang.

Hal kedua yang masih juga berhubungan dengan hal diatas adalah self service.

Entah karena terbiasa dimanja oleh sistem ekonomi kerakyatan dimana man power sangat difungsikan daripada mesin, saya blind berbagai cara mengoperasikan mesin. Mulai dari mesin cuci, printer, fotokopi, sampe top up Ezlink. Apalagi kalo sudah memakai kartu-kartu diatas. Hmmpfh. Sampe sekarang ya photocopy card saya masih belum saya pakai karena saya tidak bisa mengoperasikan mesin printing dan fotokopi di foodgle hub.

Ada lagi masalah yang dalam bahasa lebai saya, saya sebut sebagai sosialisme kontemporer. Jadi di kampus saya, jika Anda mau mengeprint dokumen, Anda harus antri untuk memasukkan dokumen yang akan Anda print ke sedikit komputer yang tersedia. Setelah Anda selesai memasukkan dokumen, Anda harus antri lagi untuk membayar printing Anda tersebut. Dari antrian ini, Anda masih harus antri lagi untuk mengambil hasil printing Anda tersebut. haduh duh, saya inget banget kalo di UGM, saya tinggal pergi ke rental depan kos yang jumlahnya bejibun untuk printing dokumen.

Berkaitan dengan ini, hal yang agak tidak nyaman lainnya adalah soal copy right. Singapura adalah negara yang amat sangat ketat dalam hal copy right. Jika di tempat asal saya bisa mendownload file apapun dari internet atau mengkopi satu buku penuh, disini sama sekali tidak bisa. Bahkan soft file reading list kita hanya diupload di account kita dan kita hanya bisa mendownloadnya sekali. Kalo download an itu eror ya Anda harus pergi ke perpus dan meminta mereka mengirim kembali file Anda tersebut. Dan ini baru buku lho, belum soft file lain. Sejak saya tinggal disini, saya tidak tahu lagu-lagu baru yang rilis di billboard karena tidak berani nyoba-nyoba pake 4shared.

Melengkapi ini, yang saya kesalkan akhir-akhir ini dan menurut saya wasting time adalah sistem krs di kampus. Di tempat asal, saya hanya tinggal klik di mata kuliah yang saya pingini dan langsung bisa mendapat konfirmasi, diterima atau direject. Mata kuliah yang muncul pun hanya mata kuliah yang ditawarkan. Di kampus ini, kita harus add mata kuliah- mata kuliah yang kita pingini, menunggu email jawaban paling tidak 3 hari kemudian, mengajukan appeal ke department jika kita tidak puas dan lain lain yang tidak selesai dalam waktu 1 minggu. Agak sayang juga untuk kuliah saya yang hanya satu semester, saya menghabiskan dua minggu untuk hal ini.

Tapi hey, hidup disini nggak sesuram itu kok. Komplain-komplain semacam itu biasa muncul jika kita masih baru di suatu tempat. Dan terlepas dari berbagai ketidaknyamanan tersebut, banyak hal-hal diatas yang justru merupakan suatu perubahan bagus untuk kita. Saya justru belajar bahwa salah satu kunci hidup bahagia di negara lain adalah berpikiran terbuka dan fleksibel. Tempat asal kita bukanlah tempat terbaik, dan perubahan di tempat baru belum tentu perubahan yang buruk. Kita hanya tinggal di negara orang yang memiliki kebiasaan berbeda dengan kita. Jadi tanpa melupakan value yang kita pegang, kita harus bisa menyesuaikan diri dengan gaya hidup mereka, untuk menghargai mereka juga. Dengan berpikiran terbuka dan fleksibel, kita justru dapat memperkaya wawasan kita dan menambah ilmu yang kita miliki. Cheers!

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 10 other followers

%d bloggers like this: