On Travel

Baba House Tour : Tracing Back Peranakan Culture

Salah satu hobi baru saya adalah mengeksplor museum-museum di suatu tempat. Kebanyakan orang, begitu juga saya, dulu menganggap hal ini membosankan. Museum ya, tempat menyimpan barang-barang kuno saja. Tapi sekarang saya punya perspektif lain. Barang-barang yang disimpan di museum tersebut sudah barang tentu adalah barang-barang penting sehingga harus dimuseumkan. Terlebih pengalaman saya membuktikan bahwa budaya klasik justru memiliki daya tarik tersendiri, memiliki kualitas dan kreatifitas yang jarang kita temukan saat ini. Mungkin hal ini disebabkan karena manusia modern lebih cenderung membuat sesuatu demi tujuan komersil, efektifitas dan kepraktisan. Berbeda dengan manusia tradisional yang maish memegang teguh nilai-nilai tradisi dan filosofi kehidupan yang tercermin dalam produk mereka.

Jadi meskipun sendirian dan tersasar setengah jam lebih, saya akhirnya menemukan 157 Neil Road di Outram Park. Saya agak bingung juga karena nomor disini kurang teratur. Bertanya pada orang pun mereka kurang tahu. Saya hanya berbekal informasi kalau kedua sisi jalan ini dibagi atas ganjil dan genap. Dan akhirnya saya menemukan Rumah Tradisional peranakan bercat biru di kiri jalan Neil.

Baba House adalah bangunan heritage milik keluarga peranakan China yang dahulu menetap di Singapura pada tahun 1890-an. Oleh salah satu cucu perempuan keluarga tersebut, rumah tradisional ini dipindah tangankan ke NUS pada tahun 1920 untuk dikoservasi. Sangat menarik untuk melihat rancangan rumah ini, terlebih jika Anda adalah mahasiswa arsitektur. Jika hendak berkunjung, Anda harus membuat appointment terlebih dahulu dengan pengelolanya. Harganya cukup murah, 3 SGD untuk mahasiswa NUS.

Sampai disana saya sudah ditunggu oleh kelompok yang hendak melakukan tour. Karena saya sendiri, saya digabungkan ke kelompok mereka. Dan mulailah kita menyusuri bagian-per bagian rumah tersebut.

Rumah adat peranakan China biasanya memiliki ruang tamu yang ditata semaksimal mungkin. Hal ini dikarenakan ruang tamu mencerminkan pemiliki rumah tersebut. Biasanya ruang ini terdiri dari satu set meja kursi di tengah ruangan dan beberapa kursi dan meja kecil dikedua sisinya. Di kedua dinding ruangan, selain Anda bisa melihat semacam relief bergaya China, Anda juga akan menemukan cermin di masing-masing sisinya. Menurut kepercayaan, cermin ini digunakan untuk mengusir setang yang sudah berhasil masuk ke rumah. Diharapkan setan yang telah masuk ini akan takut melihat dirinya sendiri dan pergi keluar. Satu feature yang selalu ada juga di ruang ini adalah tempat sembahyang. Hmm, saya benar-benar baru sadar kalau sebenernya karakter pahatan, relief dan ukiran di rumah China ini tidak jauh berbeda dengan yang di jawa. Mereka hanya berbeda isi pahatan dan ukirannya saja – China dan Jawa.

Memasuki ruang kedua, adalah ruang transisi. Ruang ini digunakan jika sang pemiliki memiliki anak perempuan yang masih malu untuk bertemu dengan tamunya. Ruang ini juga digunakan sebagai pemisah antara ruang publik dengan ruang privat. Saya suka sekali bagian ini. Selalu ada transisi=)

Di balik ruang transisi, terdapat ruang keluarga yang bersambung dengan ruang makan. Ruangan ini memiliki bagian terbuka yang berfungsi sebagai ventilasi. Bagian yang saya suka dari ruang keluarga ini adalah rak mungil yang masuk ke dinding. Menghemat tempat dan menunjukkan kuatnya tembok rumah tersebut. Oh iya, disini, juga dibagian rumah lainnya, banyak memiliki ukiran phoenix. Menurut mereka phoenix merupakan simbol damai. Diharapkan pemilik rumah ini juga demikian.

Memasuki dapur, saya tidak terlalu kaget karena saya merasa saya bisa menemukan alat-alat masak di dapur tersebut di rumah neneh saya. Mirip sekali, mulai dari wajan, baskom, panci, sampai setrikanya. Mungkin satu hal yang tidak ada dan saya suka adalah kipas angin kuno yang masih menyala di ruangan tersebut. Pingin =) Oh iya, mereka juga sudah punya dispenser dari porselen ternyata. Haha.

Naik ke atas kita harus lepas sepatu dan menyimpan tas kita di loker. Ini adalah ruang pribadi pemilik rumah. Terdapat dua kamar tidur yang dua-duanya saya suka. Perpaduan lantai kayu hitam, furnitur kayu klasik dan keranjang tidur yang nyaman sangat menggoda dan membuat mupeng. Hal yang menarik di ruang tidur utama adalah adanya dua lubang di lantai. Satu untuk mengintai bagian luar rumah, satu untuk mengintai bagian ruang tamu. Inspiring. DI bagian ini juga ada jendela yang langsung menghadap ke jalan. Ceritanya, dahulu pemiliki rumah biasanya memesan barang pada penjual yang lewat yang akan memasukkan barang tersebut ke ember yang ditarik ke atas. Uangnya? dilemparkan melalui lubang  pengintai tadi. Peduli efektifitas juga ya.

Sebenarnya banyak hal yang menarik dari rumah ini, tapi untuk baiknya, mungkin Anda bisa berkunjung kesini lain waktu. Oh ya, pesan saya, dan itu sebenernya yang saya sayangkan, tidak diperkenankan mengambil gambar dalam rumah ini.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 10 other followers

%d bloggers like this: