Other Scratches

Kelas Nation Building

Hari kedua kuliah saya disini sangat berwarna. Hal pertama yang menarik adalah kelas Nation Building in Singapore. Modul ini saya ambil karena ini modul yang berasosiasi dengan departemen saya dan ada hubungannya dengan kelompok India di Singapore yang pingin saya teliti. I have no idea about this class. Bahkan ke kelasnya saja saya masih nyasar. But anyway, saya akhirnya sampai ke kelas itu dan kaget.

Hari pertama saya kuliah kemaren kelasnya cukup besar, tapi kelas Nation Building ini sudah tidak berbeda dengan kelas parhi atau kelas paket A lain di ruang 18 Fisip UGM. Parah banget. Ada sekitar 150 mahasiswa atau lebih membanjiri ruang Lt 11 dengan suaranya yg riuh dan kaos oblong yang bener-bener so fisip. Sumpah nggak nyaman banget. Saya langsung mendapat firasat kurang enak tentang kelas ini. Apalagi setelah anak exchange disamping saya bertanya ke saya ” do you know if this class is easy???”..Is this?q langsung spontan nanya, membayangkan saya ternyata ngambil kelas pak prapto di Sosiologi.

Plis.

Dan ternyata tidak sampai disitu. Begitu kelas dimulai lampu langsung dipadamkan untuk bisa melihat video yang ditayangkan di layar depan. Cukup membuat saya penasaran sampai akhirnya saya tahu ternyata itu hanya iklan night party tanggal 20 januari ini. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kuliah yang saya ambil.

Akhirnya kelas dimulai. Dosennya masih muda, dan jujur saya tidak nyaman dengan gaya mengajarnya. Di kelas Singapore, Asia, and American Power kemaren, dosennya mengajar dengan bahasa Inggris yang saya nyaman untuk mendengarnya. Tapi dosen ini saya no comment saja. Apalagi ketika dia mengajarkan perbedaan nation and state selama setengah jam lebih kuliah kita..well,  have taken all these stuff in my home university. Nggak nyaman banget, sampe akhirnya saya memutuskan untuk keluar di tengah jalan dan pergi ke ASEF. Parahnya saya bukan satu-satunya, karena beberapa anak exchange lainnya juga ikut keluar dan menggerutu di jalan.

Ya Tuhan, ikut kelas ini membuat saya ingat hanya beberapa hari sebelum saya kesini, Jurusan HI menganggap jumlah mahasiswa 150 dalam satu kelas itu tidak manusiawi sehingga mereka berjuang untuk menguranginya menjadi satu kelas saja demi menjaga mutu. Dan saya ingat sekali salah satu universitas yang hendak dijadikan benchmarking curricula demi mencapai standar internasional ini adalah universitas dimana saya belajar sekarang. Dan ternyata mereka juga tidak jauh beda. Oh ya, belum saya sebut juga, tutor kelas ini ada 6 orang.

Yah, I leave it here.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 10 other followers

%d bloggers like this: